Bos Pakuwon Rela Bongkar Pagar Mal Kota Kasablanka, Ini Alasannya
Pakuwon membongkar pagar Mal Kota Kasablanka setelah pemerintah menilai ekonomi dan kondisi keamanan nasional tetap kondusif.
Foto ilustrasi Giant Sea Wall dibuat dengan artificial intelleigence.
Harianjogja.com, JAKARTA— Pemerintah mempercepat proyek Giant Sea Wall (GSW) di Pantai Utara Jawa dengan menyiapkan skema pengadaan lahan dan sinkronisasi tata ruang sebagai langkah strategis perlindungan pesisir.
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) saat ini tengah merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) guna memastikan kepastian spasial dan legalitas proyek tanggul laut raksasa tersebut.
Wakil Menteri ATR/BPN, Ossy Dermawan, menyatakan dukungan pengadaan tanah menjadi bagian penting dalam percepatan pembangunan infrastruktur perlindungan pesisir Pantura Jawa Terpadu.
“Ada tiga hal dukungan kami, yang pertama adalah sinkronisasi Rencana Tata Ruang (RTR) agar proyek ini tidak hanya feasible secara teknis, tetapi juga sesuai secara spasial dan legalnya,” kata Ossy dalam keterangan resmi, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, penyesuaian tata ruang tidak hanya dilakukan di tingkat nasional, tetapi juga akan diperluas hingga ke daerah agar selaras dengan rencana induk perlindungan pesisir.
Selain itu, Kementerian ATR/BPN berkomitmen mempercepat penerbitan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), khususnya jika proyek Giant Sea Wall ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Tentunya hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan pembagian kewenangan antar kementerian baik di wilayah laut, kawasan hutan, maupun di luar kedua kawasan tersebut,” imbuhnya.
Dari sisi pengadaan lahan, ATR/BPN memastikan kesiapan untuk memfasilitasi kebutuhan tanah bagi pembangunan tanggul laut, yang ditujukan untuk mengurangi risiko banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa.
Ossy juga menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian agar integrasi data dan peta lahan dapat berjalan optimal tanpa hambatan birokrasi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengingatkan bahwa kawasan pesisir Jawa tengah menghadapi tekanan ganda berupa penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut.
Ia menyebut, penurunan tanah (land subsidence) di wilayah tersebut mencapai 1 hingga 20 sentimeter per tahun, dengan kondisi paling parah terjadi di Jakarta dan Semarang.
Di sisi lain, kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global tercatat sekitar 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun, yang semakin meningkatkan risiko banjir pesisir.
“Bisa dilihat proyeksi penggenangan air laut hingga 2050 jika tanpa intervensi, ini bisa buruk sekali. Ini berpotensi pada terjadinya bencana yang lebih buruk dan fatal,” ujar AHY, menegaskan urgensi pembangunan Giant Sea Wall sebagai langkah mitigasi jangka panjang di Pantura Jawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Pakuwon membongkar pagar Mal Kota Kasablanka setelah pemerintah menilai ekonomi dan kondisi keamanan nasional tetap kondusif.
Benfica dan Anderlecht meraih kemenangan penting pada leg pertama play-off Liga Europa dan membuka peluang lolos ke fase utama.
Ronaldinho tiba di Italia untuk bergabung dengan Ravenna. Legenda Brasil itu membuka peluang tampil lagi dalam laga resmi.
Liga Inggris musim 2026-2027 menerapkan sembilan aturan baru, mulai dari batas waktu restart hingga perluasan kewenangan VAR.
Lando Norris menegaskan McLaren menjadi alasan utama dirinya optimistis menghadapi persaingan Formula 1 pada paruh kedua musim.
Instagram meluncurkan fitur notifikasi untuk orang tua jika remaja berulang kali mencari istilah terkait bunuh diri atau menyakiti diri sendiri.