Minum Teh Hijau Setelah Makan Malam, Bantu Turunkan Kolesterol
Teh hijau usai makan malam bantu turunkan kolesterol LDL. Kaya katekin dan antioksidan, tapi bukan solusi instan.
Hadi Prayitno memproduksi tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo. Antara/Prastyo.
Harianjogja.com, PONOROGO — Lonjakan harga kedelai impor mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Perajin tempe di Ponorogo, Jawa Timur, kini harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya produksi yang terus membebani.
Salah satu perajin di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Hadi Prayitno, mengaku memilih menyiasati kondisi ini dengan memperkecil ukuran tempe yang dijual, tanpa menaikkan harga ke konsumen.
“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Jadi kami akali dengan mengurangi ukuran,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, strategi tersebut diambil agar daya beli masyarakat tetap terjaga, sekaligus menjaga kelangsungan usaha. Sebelum harga kedelai naik, Hadi mampu memproduksi hingga tiga kuintal tempe per hari. Namun kini kapasitasnya turun menjadi sekitar 2 hingga 2,5 kuintal per hari.
Tak hanya itu, berat tempe per bungkus juga mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya rata-rata mencapai 380 gram, kini berkurang menjadi sekitar 350 gram per bungkus, sementara harga jual tetap dipertahankan.
Harga Kedelai Naik Signifikan
Kenaikan harga kedelai menjadi faktor utama yang menekan pelaku usaha. Pedagang di Pasar Legi Ponorogo, Rafli, menyebut harga kedelai impor kini mencapai Rp12.000 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp10.000 per kilogram.
“Lonjakan ini sudah terjadi beberapa waktu terakhir, salah satunya dipicu kondisi global seperti konflik di Timur Tengah,” katanya.
Tak hanya kedelai impor, harga kedelai lokal juga ikut merangkak naik. Saat ini berada di kisaran Rp12.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp9.000 per kilogram.
Dampak ke Produksi dan Konsumen
Kondisi ini membuat perajin tempe berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka harus menjaga kualitas dan kuantitas produksi, sementara di sisi lain tidak bisa sembarangan menaikkan harga karena berisiko kehilangan pelanggan.
Langkah mengecilkan ukuran produk pun menjadi solusi paling realistis yang banyak dipilih pelaku usaha. Fenomena ini dikenal sebagai “shrinkflation”, yakni strategi mempertahankan harga dengan mengurangi isi produk.
Meski begitu, para perajin berharap harga kedelai bisa segera stabil agar usaha mereka kembali normal. Pasalnya, tempe merupakan salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia yang permintaannya relatif tinggi setiap hari.
Prospek ke Depan
Jika tren kenaikan harga bahan baku terus berlanjut, bukan tidak mungkin pelaku usaha akan mengambil langkah lain, termasuk penyesuaian harga jual. Pemerintah diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan kedelai, baik impor maupun lokal, agar industri kecil seperti perajin tempe tetap bertahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Teh hijau usai makan malam bantu turunkan kolesterol LDL. Kaya katekin dan antioksidan, tapi bukan solusi instan.
Maroko lebih diunggulkan menghadapi Kanada pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 berkat pengalaman, organisasi permainan, dan performa konsisten.
Pelaku usaha pigura di Sleman tertekan akibat kenaikan harga kaca dan kayu hingga 40 persen. Di saat yang sama, penjualan dilaporkan turun hingga 50 persen.
Petisi online yang menargetkan Sarwendah menjadi viral dan memicu perdebatan di media sosial. Puluhan ribu dukungan diklaim telah terkumpul.
Manuel Neuer dan Riyad Mahrez resmi pensiun dari tim nasional usai Piala Dunia 2026, menandai berakhirnya era dua legenda sepak bola dunia.
Anthropic dikabarkan menjajaki kerja sama dengan Samsung untuk mengembangkan chip AI kustom guna mengurangi ketergantungan pada pemasok GPU eksternal.