Advertisement
SPPG Program MBG Bertambah, Peluang Kerja Ahli Gizi Kian Terbuka
Kepala BGN Dadan Hindayana (depan, kiri) dalam forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang dihadiri para rektor dari 24 PTN-BH di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa (28/4/2026). ANTARA - HO/BGN.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat lonjakan signifikan kebutuhan tenaga ahli gizi seiring ekspansi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah. Peningkatan ini dipicu oleh bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini telah mencapai puluhan ribu unit di seluruh Indonesia.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan setiap unit SPPG wajib memiliki minimal satu tenaga ahli gizi. Hal ini penting untuk memastikan kualitas makanan yang disajikan sesuai standar komposisi gizi, meskipun menu yang diterapkan berbasis potensi lokal di masing-masing daerah.
Advertisement
“Yang kita tetapkan bukan menu nasional, melainkan standar komposisi gizi. Karena itu, perlu ahli yang meramu sesuai bahan pangan lokal,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Dengan masifnya pembangunan SPPG, kebutuhan tenaga ahli gizi meningkat tajam. Tidak hanya lulusan gizi, BGN juga membuka peluang bagi tenaga dari bidang terkait seperti kesehatan masyarakat, teknologi pangan, hingga keamanan pangan untuk memperkuat sumber daya manusia di sektor ini.
BACA JUGA
Menurut Dadan, kondisi ini berbanding terbalik dengan sebelumnya, ketika program studi gizi kurang diminati. Kini, justru menjadi salah satu bidang yang paling dicari karena tingginya kebutuhan di lapangan.
Selain membuka peluang kerja baru, Program MBG juga mendorong perguruan tinggi untuk beradaptasi, baik dari sisi kurikulum maupun kapasitas pendidikan. Kampus didorong tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga terlibat langsung dalam implementasi program melalui pengelolaan SPPG.
BGN bahkan mendorong setiap perguruan tinggi memiliki minimal satu unit SPPG sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik. Unit ini tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi, tetapi juga sebagai pusat ekonomi yang melibatkan sektor pertanian dan peternakan.
Untuk memenuhi kebutuhan satu SPPG, dibutuhkan dukungan sumber daya yang cukup besar, mulai dari lahan pertanian hingga peternakan. Misalnya, satu unit memerlukan sekitar 8 hektare sawah untuk suplai beras, serta sekitar 19 hektare lahan jagung untuk pakan ternak. Selain itu, dibutuhkan hingga 4.000 ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan protein hewani.
Melalui skema ini, mahasiswa dapat terlibat langsung dalam berbagai aspek, mulai dari produksi pangan hingga distribusi. SPPG pun berpotensi menjadi “laboratorium hidup” bagi pengembangan riset dan inovasi di bidang pertanian, pangan, dan manajemen rantai pasok.
Lebih jauh, program ini membuka peluang kolaborasi antara kampus, petani, peternak, dan pelaku UMKM dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi. SPPG tidak hanya berperan sebagai penyedia makanan bergizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.
“SPPG menjadi offtaker bagi produk lokal, sehingga tidak hanya memberi makan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan,” ujar Dadan.
Dengan dampak yang meluas hingga sektor pendidikan dan ekonomi, Program MBG dinilai menjadi momentum penting dalam mendorong penguatan sumber daya manusia sekaligus kemandirian pangan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Usulan Kurikulum Keselamatan Transportasi Muncul Usai Tragedi Bekasi
- Judi Online Bali Dibongkar, Mahasiswi Terlibat Jaringan Kamboja
- Kecelakaan Kereta Bekasi Disorot Ombudsman RI
- Duka Korban Kecelakaan KA Bekasi, Kisah Adelia dan Nurlaela
- Kecelakaan KA Bekasi Timur, Pemprov Jabar Tanggung Biaya Korban
Advertisement
Hujan Disertai Angin Kencang Terjang Sleman, Sejumlah Rumah Rusak
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update Daftar 15 Nama Korban MD Kecelakaan KA di Bekasi Timur
- Kartini Ride Surakarta: Touring Yamaha Classy Tiga Generasi
- KPPU Selidiki Dugaan Monopoli TikTok Shop, Ini Duduk Perkaranya
- Susi Pudjiastuti Jadi Komut Bank BJB, Ini Susunan Direksi Baru
- Kecelakaan KA Bekasi Timur, Pemprov Jabar Tanggung Biaya Korban
- Kasus Little Aresha, Sultan Tutup Semua Daycare Tak Berizin di DIY
- Pemkab Sleman Usulkan Proyek Infrastruktur 2026, Fokus Jalan dan Pasar
Advertisement
Advertisement







