Advertisement

Indonesia Didorong Perkuat Rantai Pasok Hadyu Nasional

Newswire
Jum'at, 17 April 2026 - 23:12 WIB
Abdul Hamied Razak
Indonesia Didorong Perkuat Rantai Pasok Hadyu Nasional Direktur Utama PT Qeeta Group Indonesia, Taufik Surrahman, seusai menjalin kerja sama dengan peternak lokal DIY, Selasa (14/4 - 2026).

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pelaksanaan kontrak hadyu 1447 H oleh PT Qeeta Group Indonesia dinilai menjadi momentum penting untuk menguji sejauh mana Indonesia mampu membangun kemandirian dalam ekosistem ekonomi haji global. Di tengah besarnya jumlah jemaah haji asal Indonesia setiap tahun, ketergantungan pada pasokan hewan dari luar negeri masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Setiap musim haji, kebutuhan hewan hadyu dalam jumlah besar menjadi bagian penting dari rangkaian ibadah. Namun, besarnya potensi ekonomi di balik aktivitas tersebut dinilai belum mampu dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku dalam negeri. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor ekonomi haji masih didominasi pihak luar yang lebih siap dari sisi sistem dan logistik.

Advertisement

Direktur Utama PT Qeeta Group Indonesia, Taufik Surrahman, menyebut persoalan utama bukan pada keterbatasan sumber daya, melainkan pada lemahnya integrasi sistem rantai pasok di dalam negeri. Ia menilai, tanpa pembenahan menyeluruh, Indonesia akan terus berada pada posisi sebagai pasar, bukan pelaku utama.

“Masalah kita bukan kekurangan potensi, tetapi rantai pasok yang belum solid, kualitas ternak yang belum seragam, dan belum adanya orkestrasi kebijakan yang berpihak pada peternak lokal,” ujarnya melalui keterangan pers, Jumat (17/4/2026).

Dorong Ekosistem Rantai Pasok Lokal

Pada 2026, PT Qeeta Group Indonesia mulai menggandeng peternak lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Magelang untuk memenuhi kebutuhan hewan dam haji. Langkah ini disebut sebagai upaya membangun ekosistem rantai pasok dari hulu hingga hilir berbasis lokal yang selama ini masih lemah.

Model kolaborasi ini turut melibatkan berbagai pihak seperti Bio Natural Nusantara, penyelia halal dari UIN Sunan Kalijaga, pendamping keamanan pangan dari BPOM, Rumah Potong Hewan (RPH), hingga dinas terkait di daerah. Pendekatan multipihak ini dinilai penting untuk memastikan standar kualitas, keamanan, serta kepatuhan syariah dapat terpenuhi secara menyeluruh.

Tantangan Keberlanjutan Peternak Lokal

Meski dianggap sebagai langkah maju, keterlibatan peternak lokal masih menghadapi tantangan, terutama terkait keberlanjutan ekonomi dan posisi mereka dalam rantai nilai. Tanpa pendampingan yang konsisten, peternak berisiko hanya menjadi pemasok sementara tanpa peningkatan kapasitas jangka panjang.

Taufik menegaskan bahwa model yang dikembangkan bukan sekadar hubungan bisnis jangka pendek, melainkan upaya membangun ekosistem yang inklusif. “Kami ingin peternak mendapatkan manfaat nyata, bukan hanya menjadi pemasok sementara,” katanya.

Peran Pemerintah Dinilai Krusial

Di sisi lain, penguatan ekonomi haji tidak bisa hanya bergantung pada inisiatif sektor swasta. Pemerintah dinilai perlu hadir melalui kebijakan strategis seperti afirmasi peternak lokal, penguatan sistem karantina dan sertifikasi, akses pembiayaan, serta diplomasi perdagangan dengan Arab Saudi.

Tanpa dukungan tersebut, upaya membangun kedaulatan ekonomi haji dikhawatirkan tidak akan berkelanjutan.

Momentum kontrak hadyu 1447 H ini akhirnya menjadi ujian penting: apakah Indonesia mampu naik kelas menjadi pemain dalam ekonomi haji global, atau tetap berada sebagai pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal KRL Jogja-Solo 18 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur

Jadwal KRL Jogja-Solo 18 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur

Jogja
| Sabtu, 18 April 2026, 01:17 WIB

Advertisement

AS Perketat Visa, Aktivitas Digital Kini Ikut Disorot

AS Perketat Visa, Aktivitas Digital Kini Ikut Disorot

Wisata
| Jum'at, 17 April 2026, 18:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement