Advertisement
Seusai Santap MBG, Belasan Siswa Madiun Keracunan Dilarikan ke RS
Seorang siswa di SDN 1 Demangan, Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, yang mengalami gejala keracunan makanan dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis, Kamis (16/4/2026). - Abdul Jalil/Espos.
Advertisement
Harianjogja.com, MADIUN— Belasan siswa SDN 1 Demangan di Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, mendadak dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala keracunan seusai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (16/4/2026).
Sebanyak 18 siswa dari kelas IV, V, dan VI mengeluhkan mual, pusing, hingga sesak napas. Petugas kesehatan langsung mengevakuasi para siswa menggunakan mobil dari Dinas Kesehatan yang masuk ke area sekolah pada siang hari.
Advertisement
Sejumlah siswa tampak memegangi perut, bahkan ada yang menangis saat dibawa menuju kendaraan untuk mendapatkan penanganan medis. Mereka kemudian dirujuk ke UGD Puskesmas Demangan dan sebagian dirawat di RSUD Kota Madiun.
Menu MBG yang dikonsumsi siswa diketahui berasal dari SPPG Demangan Taman 4. Pada hari itu, makanan yang disajikan berupa nasi, dori krispi saus teriyaki, orek tempe, tumis wortel baby corn, serta buah belimbing.
BACA JUGA
Salah satu siswa kelas IV, Zaman Barley, mengaku merasakan kejanggalan pada menu sayur yang disantapnya. Ia menyebut rasa makanan tersebut cenderung kecut.
“Rasanya langsung mual setelah makan tadi,” ujarnya.
Petugas Surveilans Dinas Kesehatan Kota Madiun, Dhia Irfan Hanif, mengatakan seluruh siswa yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan awal dan kondisi mereka masih terus dipantau.
“Sejauh ini, kondisinya masih terpantau cukup aman. Mereka juga sudah mendapatkan pertolongan pertama. Tinggal kita melihat lagi perkembangan kondisinya masing-masing seperti apa,” jelasnya.
Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut belum dapat dipastikan. Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium di Surabaya guna mengetahui sumber masalah.
“Ini untuk memastikan makanan atau bahan makanan apa yang disinyalir menjadi penyebab kejadian ini,” ujar Dhia.
Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara operasional ratusan SPPG yang terindikasi bermasalah. Berdasarkan uji laboratorium pada beberapa kasus, bakteri patogen diidentifikasi sebagai "biang kerok" utama yang muncul akibat proses pengolahan ribuan porsi makanan dalam waktu singkat yang kurang higienis.
Pemerintah melalui BGN menyampaikan bahwa meskipun terdapat ribuan korban, angka ini diklaim hanya mencakup sekitar 0,008% dari total porsi yang telah didistribusikan secara nasional. Kendati demikian, evaluasi menyeluruh terhadap Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh mitra SPPG kini menjadi syarat mutlak yang tengah dikejar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Espos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Wajah TNI Tersangka Teror Air Keras Akan Terungkap di Sidang
- Kejagung: Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Terima Suap Rp1,5 Miliar
- Tragedi Kahramanmaras: Siswa Tembaki Kelas, Telan 9 Korban Jiwa
- Kecelakaan Beruntun di Jalur Ngawi-Mantingan, Truk Tabrak Bus Mira
- BPJS Kesehatan Luncurkan 8 Program Percepatan Layanan, Ini Daftarnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Tiga Kapal Asing Ditangkap di Selat Malaka Rugikan Negara Miliaran
- Cuaca Pagi Terik Lalu Hujan Tiba-tiba Ini Penyebabnya
- Lansia di Kulonprogo Alami Insiden Unik, Ditangani Damkar
- DIY Masuk Fase Akhir Siklus Gempa Besar, Warga Diminta Waspada
- Klinik Pratama Tamanmartani Dikebut, Warga Segera Punya Opsi Baru
- Aplikasi Angkotku Mulai Jalan, Warga Bantul Belum Bisa Akses
- Polisi Bongkar Kronologi Remaja Diamankan di Bantul
Advertisement
Advertisement









