Advertisement

Negara Luar Rebutan Pupuk Urea Indonesia, Pemerintah Bidik Ekspor

Newswire
Jum'at, 13 Maret 2026 - 03:47 WIB
Sunartono
Negara Luar Rebutan Pupuk Urea Indonesia, Pemerintah Bidik Ekspor Pekerja mengangkut pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia - ist/Antara - PT Pupuk Indonesia

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah mengeklaim sejumlah negara mulai menunjukkan ketertarikan besar untuk memborong pupuk urea produksi Indonesia di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Permintaan ini datang dengan penawaran harga tinggi demi menjaga ketahanan pangan masing-masing negara, yang secara otomatis membuka peluang emas bagi industri manufaktur pupuk nasional.

Advertisement

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, mengungkapkan bahwa fenomena ini menjadi momentum bagi PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk menggenjot produktivitas.

Menariknya, tingginya permintaan pasar global membuat pemerintah mempertimbangkan untuk kembali mengoperasikan pabrik-pabrik lama yang sebelumnya masuk dalam rencana revitalisasi atau penonaktifan bertahap.

“Gara-gara perang ini itu hampir banyak negara itu menginginkan urea, jadi banyak negara itu kemudian ingin impor urea banyak dari tempat kita. Nah kita diminta untuk ekspor banyak urea ke banyak negara, at any cost, at any price dari urea, sehingga ini jadi opportunity,” ujar Sudaryono usai pertemuan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Kondisi geopolitik yang tidak menentu justru memosisikan Indonesia sebagai pemasok kunci karena memiliki kapasitas produksi urea salah satu yang terbesar di dunia.

Sudaryono menilai situasi ini menjadi "napas baru" bagi infrastruktur industri yang sudah tua. Pabrik yang semula direncanakan untuk disuntik mati kini berpotensi diaktifkan kembali karena margin keuntungan yang tinggi mampu menutup biaya operasional pabrik lama yang kurang efisien, sehingga industri pupuk dalam negeri kembali menggeliat di tengah krisis global.

Kendati membuka keran ekspor lebih lebar, pemerintah menjamin bahwa kebutuhan petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas yang tak bisa ditawar. Salah satu negara yang dilaporkan sudah mulai menyatakan minat serius untuk mengimpor urea dari tanah air adalah Australia.

Terkait ketahanan bahan baku, pasokan gas bumi untuk produksi urea dipastikan aman karena bersumber dari kekayaan alam domestik.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira, menegaskan bahwa ketersediaan bahan baku masih terkendali hingga tujuh bulan ke depan, meski terdapat ketegangan di wilayah strategis seperti Selat Hormuz.

“Perang di area Selat Hormuz tersebut itu secara signifikan tidak berdampak langsung kepada Pupuk Indonesia,” jelas Yehezkiel.

Untuk bahan baku impor seperti fosfat dan kalium, perusahaan telah melakukan diversifikasi sumber dari Maroko, Aljazair, Kanada, hingga Laos, yang secara geografis berada jauh dari zona konflik Timur Tengah.

Meski demikian, manajemen tetap mewaspadai potensi kenaikan biaya logistik atau freight yang berbanding lurus dengan fluktuasi harga minyak dunia.

Upaya antisipasi terus dilakukan agar biaya pengiriman bahan baku penolong seperti sulfur dari Kanada tetap efisien, sehingga operasional perusahaan tetap andal dalam memenuhi permintaan ekspor sekaligus menjaga stok nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Dana Desa di Bantul Dipangkas, Lurah: Infrastruktur Terpaksa Berhenti

Dana Desa di Bantul Dipangkas, Lurah: Infrastruktur Terpaksa Berhenti

Bantul
| Jum'at, 13 Maret 2026, 05:17 WIB

Advertisement

InJourney Siapkan Agenda Wisata Sambut Libur Lebaran

InJourney Siapkan Agenda Wisata Sambut Libur Lebaran

Wisata
| Kamis, 12 Maret 2026, 22:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement