Advertisement

BRIN Tekankan Ekosistem Sosial dalam Pelestarian Manuskrip Nusantara

Newswire
Minggu, 08 Februari 2026 - 09:17 WIB
Sunartono
BRIN Tekankan Ekosistem Sosial dalam Pelestarian Manuskrip Nusantara Ilustrasi Buku - Reuters

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Pelestarian manuskrip Nusantara tidak dapat dilepaskan dari ekosistem sosial-budaya yang melingkupinya. Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa ketahanan manuskrip sebagai warisan budaya tidak hanya bergantung pada upaya dokumentasi atau digitalisasi, tetapi juga pada keberlanjutan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Periset PR MLTL BRIN, Agus Iswanto, mengungkapkan temuan penelitiannya terkait tradisi pembacaan manuskrip ruwatan di Jember, Jawa Timur. Dalam tradisi tersebut, manuskrip justru mampu bertahan karena terus digunakan dalam praktik ritual yang diwariskan lintas generasi.

Advertisement

“Manuskrip ini tidak bisa digantikan oleh cetakan atau digital. Untuk ruwatan, syaratnya harus naskah tulis tangan beraksara Pegon dan dibaca dalam ritual,” kata Agus dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Menurut Agus, kekuatan tradisi manuskrip terletak pada ekosistem yang utuh dan saling terhubung. Ekosistem tersebut mencakup penyalin naskah, pembaca, peruwat, tuan rumah penyelenggara ritual, hingga audiens yang menjadi bagian dari praktik budaya tersebut.

Ia menegaskan bahwa digitalisasi tetap memiliki peran penting dalam upaya pelestarian, namun tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi untuk menjaga keberlanjutan manuskrip sebagai tradisi hidup.

“Tidak semua budaya manuskrip bisa diselamatkan hanya dengan digitalisasi. Ekosistem sosial-budaya masyarakatlah yang menentukan,” ujarnya menegaskan.

Pandangan serupa disampaikan Peserta Program Doktoral Riset BRIN/Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) Universitas Indonesia, Muh. Heno Wijayanto. Ia menilai manuskrip kerap disalahpahami sebagai artefak statis yang terlepas dari konteks sosial dan praktik budaya.

Dalam kajiannya mengenai transformasi ritual lewatan di Jawa Tengah melalui teks Bhima Swarga, Heno menemukan bahwa ketahanan manuskrip tersebut justru terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan perubahan zaman dan sistem kepercayaan.

“Manuskrip seharusnya dilihat sebagai tradisi yang hidup, melibatkan praktik tulis, ritual, dan pendidikan yang terus berlanjut. Kunci resiliensinya adalah adaptasi. Tradisi bertahan bukan karena utuh, tetapi karena mampu memberi makna baru bagi masyarakatnya,” urai Heno.

Sementara itu, Peneliti Budaya sekaligus Assistant Professor dari Universitas Leiden, Belanda, Verena Meyer, menyoroti paradoks dalam praktik pelestarian warisan tekstual. Ia mengkritisi kecenderungan yang lebih mengutamakan teks tua sebagai artefak “asli” dibandingkan tradisi manuskrip yang masih hidup di tengah masyarakat.

Menurut Verena, digitalisasi memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi membantu penyelamatan teks, namun di sisi lain berpotensi mencabut manuskrip dari ekosistem sosial yang memberi makna pada keberadaannya.

“Digitalisasi membantu, tetapi juga bisa mencabut teks dari ekosistem yang memberinya makna. Arsip digital pada dirinya sendiri belum merupakan ekosistem tempat tradisi bisa hidup,” ucap Verena Meyer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Gunungkidul Bangun 10 Gerai KDMP, Status Lahan Dipastikan Aman

Gunungkidul Bangun 10 Gerai KDMP, Status Lahan Dipastikan Aman

Gunungkidul
| Minggu, 08 Februari 2026, 11:17 WIB

Advertisement

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

Wisata
| Rabu, 04 Februari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement