Advertisement
Penanganan Cepat Jadi Kunci Kesembuhan Pneumonia Anak
Foto ilustrasi anak sakit flu. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Keberhasilan penyembuhan pneumonia pada anak sangat ditentukan oleh kecepatan mendapatkan pertolongan medis, termasuk akses oksigen dan fasilitas kesehatan. Hal ini diungkapkan Ketua UKK Respirologi IDAI Nastiti Kaswandani,
Nastiti menjelaskan faktor kecepatan penanganan pneumonia seringkali terhambat karena akses ke fasilitas kesehatan yang jauh sehingga tidak bisa cepat sampai di rumah sakit, dan keterbatasan alat kesehatan untuk membantu pertolongan pertama seperti oksigen.
Advertisement
“Memang faktor kecepatan pertolongan itu sangat mempengaruhi, teman-teman di daerah mohon maaf yang mungkin akses kesehatannya agak lama, menempuh jarak yang cukup jauh ke rumah sakit, keterbatasan oksigen, obat dan yang lain itu bisa menyebabkan angka kematian pada pneumonia tidak turun-turun,” kata Nastiti dalam diskusi kesehatan yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Nastiti mengatakan setiap 43 detik anak meninggal karena pneumonia yang disebabkan berbagai jenis bakteri maupun virus. Bakteri yang paling sering menyebabkan pneumonia adalah streptococcus pneumonia atau pneumococcus, yang lainnya dari virus seperti hemovirus influenza, pertusis, klebsiella, RSV, rinovirus dan parainfluenza.
BACA JUGA
Apa yang terjadi di negara berkembang, kematian anak akibat pneumonia disebabkan karena keterlambatan di bawa ke rumah sakit yang disebabkan banyak faktor dan ketidaktahuan orang tua untuk mengenali gejala dan tanda bahaya pneumonia.
Pneumonia diawali dengan gejala seperti selesma atau common cold infeksi saluran pernapasan atas, dengan batuk pilek, dan demam. Namun gejala bisa berkembang menjadi pneumonia jika napas anak sudah terlihat cepat, sesak napas, lesu, lemah sampai kesadarannya menurun.
“Dan kalau dicermati pernapasannya itu di bagian dadanya ada tarikan dinding dada ke dalam yang menandakan anak itu sedang meningkatkan usaha nafas untuk mengatasi kekurangan oksigen yang ada di dalam tubuh. Kalau sampai berat, bisa sampai biru kemudian kejang dan penurunan kesadaran,” katanya.
Nastiti mengatakan pengetahuan untuk mengenali tanda awal pneumonia harus diketahui mulai dari posyandu, tenaga kesehatan di Puskesmas hingga kader, dengan cara menghitung napas anak selama satu menit tidak boleh lebih dari 60 kali per menit pada usia kurang dari 2 bulan.
Pada anak dua bulan sampai satu tahun frekuensi pernapasan tidak boleh 50 kali per menit dan diatas satu tahun batasannya 40 kali per menit. Dan saturasi oksigen juga perlu diperhatikan tidak di bawah 95 persen.
Kematian pada anak karena pneumonia juga bisa disebabkan karena gizi buruk dan malnutrisi berat. Maka itu penting pemberian ASI eksklusif untuk menambah antibodi pada bayi dan menurunkan risiko pneumonia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Kapal Perang Iran Karam di Samudra Hindia, 101 Hilang
- Skandal Goreng Saham, OJK Bekukan Aset Rp14 Triliun dan 2 Tersangka
- Drama OTT Bupati Pekalongan, KPK Tangkap Fadia Arafiq di SPKLU
- Bahlil Buka-bukaan Stok BBM RI Cuma Cukup 25 Hari, Ini Alasannya
- Skandal Manipulasi IPO, OJK Geledah Kantor Sekuritas PT MASI di SCBD
Advertisement
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Perpanjang SIM di Gunungkidul Lebih Mudah, Ini Lokasinya
- Jadwal Kereta Bandara Jogja Terbaru, Rabu 4 Maret 2026
- Jadwal SIM Keliling Polda DIY Rabu 4 Maret 2026, di Kapanewon Godean
- Cek Jadwal Bus Sinar Jaya dari Jogja ke Pantai Baron dan Parangtritis
- Jadwal Bus SIM Keliling Sleman Maret 2026 Lengkap
- Jadwal DAMRI-Bandara YIA Jogja Hari Ini, Rabu 4 Maret 2026
- Cek Lokasi SIM Keliling Kota Jogja Hari Ini, Ada Layanan Pagi
Advertisement
Advertisement








