Advertisement
PMK Merebak, Guru Besar FKH UGM Bagikan Rekomendasi dan Solusi
Ilustrasi penyuntikan vaksin PMK di kandang Kelompok Ternak Pandanmulyo, Dusun Ngentak, Poncosari, Srandakan, Rabu (29/6/2022). - Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Aris Haryanto menaksir kemungkinan lonjakan kasus PMK yang terjadi saat ini dikarenakan proses vaksinasi yang belum menyeluruh dan dilakukan secara berkala.
"Kasus PMK kali ini merupakan gelombang kedua, sebelumnya sudah pernah [vaksinasi] dan peternak sekarang sudah terinformasi. Namun karena kasusnya mereda, jumlah vaksinasinya juga menurun," kata Aris dalam siaran tertulis dikutip, Selasa (7/1/2025).
Advertisement
Penyakit PMK disebabkan oleh virus RNA, genus Apthovirus yang termasuk dalam keluarga Picornaviridae. Aris menjelaskan bila penyebaran virus bisa sangat cepat dan menular pada hewan ternak, baik secara langsung, tidak langsung, maupun melalui udara.
Penyebaran lewat udara inilah yang membedakan virus ini dengan jenis virus lainnya. "Virus ini bisa menyebar secara langsung melalui udara. Jika hewan itu ditempatkan berdampingan, kemungkinan tertularnya besar. Bahkan ada kasus di mana penularannya bisa sampai 200 km jaraknya," jelas Aris.
Kendati pengembangan vaksin PMK terus digalakkan, sayangnya Aris menilai vaksin dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan vaksinasi hewan-hewan ruminansia yang rentan terkena PMK. "Vaksinasi itu harus dilakukan dua kali minimal. Jarak antara vaksin pertama dan kedua itu sebulan. Tetapi setelah itu tetap harus divaksin setiap enam bulan sekali," imbuhnya.
Upaya mitigasi PMK lanjut Aris perlu dilakukan secara bertahap sesuai gejala yang muncul. Pada tahap pertama, hewan yang terkena PMK akan mengalami demam tinggi. Pada tahap ini peternak diharapkan bisa bersikap tanggap dengan memberi analgesik dan antibiotik untuk meredakan nyeri dan demam.
BACA JUGA: Transaksi Jual-Beli Sapi di Sleman Turun Ratusan Juta Akibat Kasus PMK
Selain itu, hewan yang mengalami gejala dijelaskan Aris harus dipisahkan dengan hewan lainnya agar mencegah penularan lebih lanjut. Pada tahap selanjutnya, akan muncul lepuh atau lesi atau sariawan pada rongga mulut, serta luka pada kuku. "Hewan yang terinfeksi harus diberi antibiotik dan vitamin secara berkala, ini untuk mencegah munculnya infeksi sekunder akibat luka yang terbuka," jelasnya.
Selama pelaksanaan mitigasi diterapkan, peternak diharapkan Aris untuk menerapkan biosekuriti yang baik pada area kandang dengan mengawasi secara ketat akses keluar masuk pada hewan yang terinfeksi.
Adapun masa inkubasi virus PMK bisa dalam jangka panjang selama 2-5 hari. Sedangkan jangka pendek, terjadi dalam masa waktu 10 hingga 14 hari. Faktor yang mempengaruhi masa inkubasi adalah jenis virus dan tata laksana peternak.
Aris menegaskan, penting bagi peternak untuk langsung melaporkan kasus PMK pada petugas satgas atau dokter hewan terdekat untuk membantu peternak melakukan mitigasi dan penanganan. "Tidak perlu panik, utamanya segera lapor dan lakukan mitigasi. Pemerintah saat ini sudah menutup beberapa pasar hewan di Jogja dan Jawa Tengah. Harapannya masyarakat bisa menaati karena ini bersifat sementara," tegasnya.
Menurut Aris, upaya kerja sama antarpihak sangat diperlukan untuk mengatasi wabah PMK. Pemerintah bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan sejumlah pakar terus menjalin kerja sama agar jumlah kasus terinformasi dan tertangani dengan baik.
Untuk wilayah DIY dan Jawa Tengah, Fakultas Kedokteran Hewan UGM kata Aris juga turut berkontribusi menangani kasus PMK melalui PDHI maupun penerjunan mahasiswa secara langsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
- Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
- Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop
- Viral MBG Dibungkus Kresek, Satgas dan BGN Turun Tangan
Advertisement
Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
- Sekolah dan ASN Didorong Ubah Kebiasaan Demi Hemat Energi
- Harga Pangan Global Naik Lagi, FAO Soroti Dampak Konflik Timur Tengah
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
- Van Gastel: PSIM Layak Dapat Hasil Lebih Baik dari Dewa United
- Wapres Gibran Lepas Alumni Pejuang Digital untuk Pendidikan 3T
Advertisement
Advertisement






