Advertisement
Kunci Sukses Generasi Ketiga Tjokrosuharto Tetap Lestarikan Seni dan Budaya Jogja
Rifki Kusumo Harimawan, pengekola Tjokrosuharto Jogja.ist
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Salah satu gerai arts and crafts legendaris di Jogja, Tjokrosuharto berbagi tips bagaimana bisa terus berkembang menjalankan bisnisnya.
Tjokrosuharto yang terletak di jalan Jl. Panembahan No.58, Panembahan, Kraton, Kota Jogja ini sudah berdiri sejak tahun 1930. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Wijilan yang terkenal dengan kuliner gudegnya.
Advertisement
Bangunan lawas era Indi yang digunakan Tjokrosuharto masih berdiri kokoh. Di usia ke 94 tahun ini, generasi penerus Tjokrosuharto terus mengembangkan usahanya hingga mampu bertahan dan berkembang.
"Saya sendiri adalah generasi penerus ketiga dan mulai aktif mengelola sejak tahun 1993. Eyang saya merintis sejak tahun 1930, kemudian dilanjutkan oleh orang tua saya dari tahun 1986," cerita Rifki Kusumo Harimawan.
BACA JUGA: KISAH INSPRATIF: Warga Gunungkidul Bikin Ramuan Empon-empon untuk Lele Tidak Amis
Sejak pertama kali dibuka, kata Rifki, Tjokrosuharto fokus pada penjualan produk kesenian dan kebudayaan Jawa. Mulai dari kain batik, kebutuhan upacara pernikahan, produk pakaian tradisional seperti surjan, selop, blangkon dan tarian jawa hingga aneka pernak-pernik kebudayaan lainnya.
Bagi Rifki, menjadi generasi penerus Tjokrosuharto tidak hanya bertanggungjawab meneruskan usaha keluarga tetapi juga mampu melestarikan nilai-nilai seni dan budaya Jawa. Seperti yang dicita-citakan generasi sebelumnya.
Maka tak salah bila di gerai tersebut, pengelola juga menyediakan perlengkapan berbagai kebutuhan untuk tarian Jawa seperti aksesoris untuk penari serimpi, merak, anoman sampai wayang orang. Ada juga wayang kulit, gamelan dan beragam keris yang disediakan.
"Kami memang fokus [menjual] produk budaya Jawa dan ingin mengeksplorasi semua budaya Jawa demi melestarikannya," ujar Rifki.
Hingga kini, sambung Rifki, ada sembilan komoditas unggulan Tjokrosuharto yang masih dipertahankan. Di antaranya adalah kerajinan perak dan logam serta batik tulis. Kerajinan perak dan batik ini adalah cikal bakal Tjokrosuharto berdiri.
"Eyang kakung saya dulu adalah perajin perak, tinggalnya di Kotagede. Nah, eyang putri saya ini membuat batik, yang dulunya adalah abdi dalem, jadi pemegang payung di masa Sri Sultan HB VIII. Kemudian membuat workshopnya di Panembahan ini," ujar Rifki.
Koleksi Batik dan Keris
Ia menjelaskan, koleksi keris di Tjokrosuharto tidak hanya keris aksesoris tetapi juga ada yang masuk kategori keris sepuh dan duplikat. Harga keris sepuh dibnderol lebih mahal karena termasuk koleksi zaman dari era kerajaan Tuban, Mataram, Majapahit, dan lainnya.
Selain ditempa oleh empu-empu pusaka, keris sepuh memiliki tangguh, dapur dan pamor yang hanya bisa dijumpai zaman kerajaan. "Eyang dulu suka koleksi keris. Zaman dulu, keris itu dijual besekan. Koleksi keris dan pusaka milik eyang kami simpan terpisah di tempat lain, namun tidak dijual," cerita Rifki.
Harga keris sangat bervariasi. Paling murah keris aksesoris, harganya ratusan ribu rupiah. Adapun keris duplikat dijual di atas satu hingga dua jutaan sementara keris sepuh yang masih utuh dan terawat dihargani lebih dari Rp 5 juta.
Tjokrosuharto juga identik dengan batik tulisnya. Meski juga menjual batik printing, namun batik tulis Tjokrosuharto memiliki pelanggan dari artis, menteri hingga mantan presiden. "Pak SBY pernah beli, ibu menteri Retno Marsudi, dan beberapa artis. Saya menunggu Pak Prabowo bisa rawuh," harap Rifki.
Menurutnya, melestarikan batik tulis agar tidak punah salah satunya dengan membeli dan mengenakannya dalam kegiatan sehari-hari. Menurutnya, apa yang dilakukan tokoh publik dengan berkunjung ke Tjokrosuharto maupun gerai-gerai lainnya, adalah untuk merawat kelangsungan hidup perajin batik tulis, dan mereka yang memasarkannya.
Selama ini, komoditas Tjokrosuharto tidak hanya dikirim ke pasar domestik. Hasil kerajinan Tjokrosuharto juga sudah diekspor ke sejumlah negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Di pasar mancanegara tersebut, batik tulis, pakaian upacara adat, dan pakaian tarian adat paling banyak dipesan konsumen.
Pesanan online tersebut dikirim melalui jasa ekspedisi. Sejak tahun 2009, Tjokrosuharto memilih JNE sebagai mitra pengiriman karena memiliki banyak keunggulan dibanding ekspedisi lainnya. JNE, lanjut Rifki, mempunyai respons kilat menanggapi permintaan pelanggan, serta memberikan solusi jika konsumen mengalami kendala.
"Ada layanan pick up, konsumen butuh dikirim cepat, hari ini atau besok harus sampai, bisa dipenuhi oleh JNE. Ketepatan sampai tujuan dengan baik, handling bagus," ujar Rifki yang mengakui lonjakan kiriman terjadi pada saat pandemi Covid-19. Penjualan mayoritas berasal dari online.
Sebagai customer corporate, Tjokrosuharto menjadi salah satu pelanggan setia JNE. Komoditas Tjokrosuharto bisa dikemas dengan baik sesuai permintaan konsumen, entah itu keris, batik, hingga gebyok yang memiliki ukuran jumbo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pendatang ke Jakarta Didominasi Usia Produktif Minim Keterampilan
- Perbedaan Jumat Agung dan Paskah, Jangan Sampai Keliru
- Ribuan Dapur MBG Bermasalah Program Gizi Disorot
- Kasus Amsal Berbuntut Panjang, DPR Desak Evaluasi Total Kejari Karo
- Anak Indonesia Nyaris Semua Online, PP Tunas Jadi Benteng Terakhir
Advertisement
Jadwal KA Bandara YIA 4 April 2026, Lengkap dari dan ke Jogja
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 3 April 2026
- Tabrakan Maut di Sedayu Bantul, 3 Remaja Tewas
- Jadwal Misa Jumat Agung 2026 di DIY
- Hari Ini, Sal Priadi CS Manggung di Lapangan Pancasila UGM
- Lapak Asik BPJS Ketenagakerjaan Kini Dilengkapi Antrean Digital
- WFH Jumat untuk ASN Sleman Mulai Digodok, Layanan Publik Tetap Jalan
- Perbedaan Jumat Agung dan Paskah, Jangan Sampai Keliru
Advertisement
Advertisement








