Asian Games 2026: Indonesia Koleksi 13 Medali, Ini Rinciannya
Update medali Asian Games 2026, Indonesia telah mengoleksi 13 medali, terdiri dari 1 perak dan 12 perunggu.
Ambulans - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, KLATEN—TA seorang siswa warga Klaten, yang bersekolah di SMA Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul meninggal dunia setelah mengeluh pusing dan pingsan di puskesmas yang kosong tanpa dokter, petugas maupun sopir ambulans.
TA, merupakan warga Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Akibat kejadian ini belasan warga Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, mendatangi puskesmas setempat, Kamis (10/8/2023), untuk menyampaikan tuntutan perbaikan pelayanan menyusul meninggalnya seorang pelajar berinisial TA, 16.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, belasan warga itu mendatangi Puskesmas Bayat, Kamis sekitar pukul 08.30 WIB. Mereka kemudian melakukan audiensi dengan pegawai Puskesmas serta Muspika Bayat.
Salah satu warga Kecamatan Bayat, Suripto, 50, mengatakan TA merupakan seorang remaja putri asal Kecamatan Bayat yang sekolah di salah satu SMK di Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, DIY. TA menjadi salah satu anggota Paskibra di Gunungkidul. Sebelumnya TA masih mengikuti latihan dan pulang ke rumahnya di Kecamatan Bayat, Klaten, pada Rabu (9/8/2023) sore.
Remaja putri itu sempat dolan dan makan bareng dengan temannya kemudian pulang. Sekitar pukul 18.00 WIB, TA merasa pusing dan tak sadarkan diri. Dia kemudian dilarikan ke Puskesmas Bayat, Klaten, sekitar pukul 18.30 WIB. Jarak rumah TA dengan puskesmas sekitar 1 km.
“Sampai di sana [puskesmas] tidak ada dokter. Ada dua bidan yang jaga di sana. Saat mau dibawa ke rumah sakit, di sana tidak ada sopir ambulans, makanya kami harus mencari ambulans dulu,” kata Suripto yang juga seorang relawan seusai audiensi, Kamis.
Saat jeda waktu itu untuk mencari ambulans itulah, lanjut Suripto, bidan menyatakan pelajar putri tersebut meninggal dunia. “Harusnya yang menyatakan meninggal dunia itu seorang dokter,” ujar Suripto.
Keluhan terkait pelayanan di Puskesmas Bayat, Klaten, disebut bukan kali ini saja. Sebelumnya, Suripto sering menerima keluhan terkait pelayanan puskesmas tersebut. “Setiap kali mau merujuk, keluarga pasien diminta mencari ambulans sendiri. Intinya, tulisan 24 jam di sana itu fungsinya apa?” jelas Suripto.
Suripto dan perwakilan warga lainnya menuntut ada perbaikan pelayanan di Puskesmas Bayat. Salah satu tuntutan yakni selalu disiagakan dokter serta sopir ambulans di puskesmas yang membuka pelayanan 24 jam itu.
“Pada pertemuan tadi kami hanya ingin ada pembenahan. Kami beri waktu sebulan [agar ada perbaikan pelayanan di Puskesmas]. Kalau tidak ada perbaikan, kami akan mengerahkan unjuk rasa ke puskesmas kemudian dilanjut ke kabupaten,” kata dia.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Anggit Budiarto, mengatakan dari informasi kepala Puskesmas ada audiensi dengan warga terkait pelayanan di Puskesmas Bayat. Anggit menjelaskan Puskesmas Bayat merupakan puskesmas yang membuka pelayanan 24 jam.
“Jadi sebanyak 15 orang perwakilan dari Bayat diskusi di sana, ada Pak Camat dan Muspika. Intinya ada kesepakatan karena [Puskesmas] Bayat buka 24 jam, diharapkan ambulans stand by. Karena memang sopirnya satu orang. Waktu kemarin sopirnya sakit. Sekarang disepakati bagi yang bisa nyopir, bisa memanfaatkan ambulans itu,” kata Anggit.
Anggit menjelaskan poin lain dari pertemuan tersebut yakni setiap kali sif ada dokter jaga. “Akhirnya di sana ada dokter yang internship, sudah dilakukan sif jaga oleh dokter internship,” jelas Anggit.
Anggit menjelaskan hasil diskusi itu menjadi bahan evaluasi perbaikan pelayanan Puskesmas. Poin kesepakatan itu nantinya juga bakal berlaku di semua puskesmas di Klaten.
Terkait meninggalnya seorang remaja asal Bayat saat dibawa ke Puskesmas, Anggit menjelaskan dari kronologi yang dia terima, TA tidak sadarkan diri di rumah kemudian dibawa ke Puskesmas.
“Dari kamera CCTV di puskesmas, sekitar 35 menit dari datang sampai pulang. Di sana itu sekitar tujuh menit direkam sudah flat. Kami coba konfirmasi lagi. Diduga meninggalnya menurut laporan itu karena henti jantung,” jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos
Update medali Asian Games 2026, Indonesia telah mengoleksi 13 medali, terdiri dari 1 perak dan 12 perunggu.
29 September 2026 diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional, Hari Jantung Sedunia, hingga Save the Koala Day. Simak enam momen pentingnya.
Prakiraan cuaca DIY Selasa, 29 September 2026: mayoritas cerah berawan, suhu 22–34°C, kelembapan 44–98 persen. Cek rincian per kecamatan.
Pemkab Kulonprogo merotasi sejumlah pejabat dan mengisi jabatan kosong dengan mengoptimalkan manajemen talent pool ASN.
Maarten Paes menyebut suporter menjadi pemain ke-11 Timnas Indonesia saat bermain 10 orang melawan Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul Senin 29 September 2026 tersedia untuk rute Obelix Sea View dan Pantai Drini.