Advertisement

Mantan Presiden Rusia Sebut Perang di Ukraina Tak Dapat Dihentikan, Ini Alasannya

Nancy Junita
Sabtu, 27 Agustus 2022 - 23:47 WIB
Budi Cahyana
Mantan Presiden Rusia Sebut Perang di Ukraina Tak Dapat Dihentikan, Ini Alasannya Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA–Mantan Presiden Rudia Dmitry Medvedev menegaskan Rusia tidak dapat menghentikan perang di Ukraina yang sudah berlangsung enam bulan.

Dikutip dari Channelnewsasia, Sabu (27/8/2022), Medvedev adalah sekutu utama Presiden Vladimir Putin dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

BACA JUGA: Kabar Gembira! Bulan Depan Trans Jogja Akan Diintegrasikan dengan KRL

Dia menegaskan Moskwa tidak akan menghentikan operasi militernya di Ukraina bahkan jika Kyiv secara resmi membatalkan keinginan untuk bergabung dengan NATO.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi Prancis, dia menyebut Rusia siap untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan syarat-syarat tertentu.

Sebelum invasi pada Februari 2022, Moskwa menjelaskan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO tidak dapat diterima.

"Meninggalkan partisipasinya dalam aliansi Atlantik Utara sekarang penting, tetapi itu sudah tidak cukup untuk membangun perdamaian," kata Medvedev kepada televisi LCI dalam kutipan yang dilaporkan oleh kantor berita Rusia.

Rusia, katanya, akan melanjutkan operasi militer sampai tujuannya tercapai. Putin mengatakan dia ingin "denazifikasi" Ukraina. Kyiv dan Barat mengatakan ini adalah dalih tak berdasar untuk perang.

Rusia dan Ukraina mengadakan beberapa kali pembicaraan setelah invasi dimulai, tetapi tidak membuat kemajuan.

"Ini (pembicaraan) akan tergantung pada bagaimana peristiwa itu terjadi. Kami sudah siap sebelum bertemu (Zelensky)," kata Medvedev.

BACA JUGA: Pemeriksaan Disetop, Istri Ferdy Sambo Tidak Ditahan

Dalam komentarnya, dia juga mengatakan senjata Amerika Serikat (AS) yang sudah dipasok ke Ukraina - seperti peluncur roket ganda HIMARS - belum menimbulkan ancaman substansial.

Tapi itu bisa berubah, katanya, jika senjata yang dikirim AS bisa mengenai target pada jarak yang lebih jauh.

“Artinya ketika rudal semacam ini terbang 70 km, itu satu hal,” katanya.

"Tapi ketika itu 300 km – 400 km, itu lain, sekarang itu akan menjadi ancaman langsung ke wilayah Federasi Rusia,” tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Hari Terakhir Januari 2023, Segini Stok Darah di DIY

Jogja
| Selasa, 31 Januari 2023, 12:57 WIB

Advertisement

alt

Cacing-cacing di Terowongan Terbengkalai Ini Memancarkan Cahaya Biru di Malam Hari

Wisata
| Selasa, 31 Januari 2023, 11:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement