Advertisement

Epidemiolog: Hepatitis Akut Berbeda dengan Penyakit Kuning

Ni Luh Anggela
Kamis, 05 Mei 2022 - 15:47 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Epidemiolog: Hepatitis Akut Berbeda dengan Penyakit Kuning Ilustrasi seorang anak dirawat di rumah sakit akibat hepatitis akut misterius - Hudson Valley Post

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menegaskan bahwa hepatitis akut berbeda dengan penyakit kuning.

"Faktanya orang atau anak yang terinfeksi 'hepatitis baru' ini terdeteksinya negatif, baik itu terhadap hepatitis A, B, C, D dan E, bahkan sitomegalovirusnya negatif. Beberapa juga negatif untuk SARS-CoV-2 dan Adenovirusnya," kata Dicky kepada Bisnis, Kamis (5/5/2022).

Advertisement

Selain itu, dia menjelaskan, hepatitis akut merupakan infeksi dari hati yang sifatnya sebentar. Biasanya memerlukan waktu dua minggu hingga satu bulan untuk pulih. Entah itu pulih sendiri atau pulih dengan terapi. Sedangkan hepatitis kronis, misalnya hepatitis B, bisa menjadi sirosis.

Kemudian, untuk mengetahui sumber penyakit dan bagaimana penularannya, Dicky menyampaikan butuh waktu untuk mengetahuinya, lantaran perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

"Nah sekarang infeksi hepatitis yang ada saat ini disebut misterius itu bedanya itu karena belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Termasuk patofisiologinya," ungkapnya.

Baca juga:  Hepatitis Akut Misterius Masuk Indonesia, Ini Gejalanya...

Selama hepatitis akut belum bisa ditemukan penyebab pastinya, dunia harus terbuka terhadap berbagai kemungkinan. Ini dilakukan agar tidak terjadi bias dalam penyelidikan.

"Kita harus bersabar. Yang jelas ini sedang menjadi gejala dan bahwa apakah ini menular antar anak yah ini juga belum bisa kita pastikan. Prinsipnya untuk mitigasi pencegahan itu jauh lebih baik," jelasnya.

Adapun pencegahan yang dimaksud adalah dengan melaksanakan protokol kesehatan seperti 5M yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas, dan juga 3T (testing, tracing and treatment).

Selain itu, personal hygiene, sanitasi lingkungan, gizi hingga makanan dan minuman perlu dilakukan untuk mencegah penyakit menular.

"Menjawab seberapa besar potensi hepatitis akut ini meluas, tentu belum bisa dijawab pasti ya. Tapi dalam prinsip epidemiologi dalam hal penyakit menular, skenario terburuk itu harus terpakai. Jadi prinsipnya mencegah skenario terburuk itu," jelasnya.

Dia menambahkan, yang jelas kasus hepatitis akut tersebut harus diwaspadai lantaran hingga saat ini dengan total kasus di dunia di bawah 250-an, sebanyak 20 orang harus ditransplantasi dan 1 orang meninggal dunia.

"Itu sudah menunjukkan indikator bahaya. Karena meskipun dengan jumlah [kasus] yang ratusan dengan satu kematian, ada indikator bahwa ini menunjukkan sesuatu yang serius," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Bidik Target Tinggi, PSS Naikan Anggaran Belanja Pemain Dua Kali Lipat Musim Ini

Sleman
| Minggu, 16 Juni 2024, 15:17 WIB

Advertisement

alt

Makan Murah di Jogja: Berburu Street Food di Kotabaru

Wisata
| Minggu, 09 Juni 2024, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement