Advertisement

Jokowi Sentil TNI-Polri, KSP Sebut Gaya Presiden Out of the Box

Jaffry Prabu Prakoso
Minggu, 06 Maret 2022 - 20:47 WIB
Bhekti Suryani
Jokowi Sentil TNI-Polri, KSP Sebut Gaya Presiden Out of the Box Ali Mochtar Ngabalin (kanan) saat bertemu Presiden Joko Widodo. Ali Mochtar ditunjuk sebagai Staf Ahli di Kantor Staf Kepresidenan - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA – Sentilan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada TNI-Polri yang disampaikan secara luas menjadi pertanyaan. Padahal itu bisa disampaikan secara internal sehingga yang dilakukannya seakan-akan ada ketidakharmonisan.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengatakan bahwa gaya komunikasi Jokowi berbeda dengan presiden lainnya. Dia sengaja menyampaikan kritik secara luas agar bisa sampai ke seluruh prajurit dengan cepat.

Advertisement

“Itu gaya out of the box sehingga pesan sampai ke seluruh pelosok Tanah Air dan seluruh anggota,” katanya pada diskusi virtual, Minggu (6/3/2022).

Di depan pimpinan TNI-Polri, Jokowi mengungkapkan dua hal. Pertama, Presiden menyentil adanya percakapan di grup WhatsApp TNI-Polri yang menentang pembangunan ibu kota negara (IKN).

Lalu, Jokowi berpesan jangan mengundang penceramah yang berpaham radikal. Itu dikhususkan kepada istri anggota TNI-Polri ketika mengadakan pengajian atau mengundang penceramah.

Ngabalin menjelaskan bahwa pertentangan soal IKN seharusnya tidak boleh terjadi. Keputusan yang sudah diambil seharusnya didukung penuh oleh semua lembaga negara.

BACA JUGA: Isoman Covid-19 Selesai Tanpa Perlu PCR Negatif, Ini Alasannya

Oleh karena itu, seluruh jajaran TNI, Polri, dan Badan Intelijen Negara dari pimpinan sampai bawahan harus tunduk atas perintah kepala negara. Tidak boleh ada pertentangan meski di grup WhatsApp karena merupakan ruang publik.

“Jadi narasi ini tidak boleh dipakai oleh orang-orang yang katanya punya pengetahuan tapi sebenarnya tidak punya pengetahuan dan merusak dialog orang di ruang publik. Dan ini harus dicegah,” jelasnya.

Sedangkan terkait ceramah radikal, Ngabalin menuturkan bahwa paham tersebut seperti kanker yang sudah masuk stadium empat. Sangat kronis.

“Paham radikal itu dipakai oleh para ekstremisme dan para teroris. Jadi, mimbar-mimbar dengan trem-trem agama dipakai untuk mengacaukan situasi politik dan situasi sosial kehidupan masyarakat,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Kambing dan Domba Jadi Andalan, UGM Genjot Ilmu Ratusan Peternak DIY

Kambing dan Domba Jadi Andalan, UGM Genjot Ilmu Ratusan Peternak DIY

Sleman
| Sabtu, 04 April 2026, 15:37 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement