Advertisement
Retno Minta AS Lanjutkan Fasilitas GSP untuk Indonesia
Presiden Jokowi didampingi Menlu Retno Marsudi dan Mensesneg Pratikno melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu AS Anthony J. Blinken, Senin (13/12/2021) - BPMI Setpres - Lukas.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi meminta kepada Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken agar tetap melanjutkan fasilitas GSP untuk Indonesia dan kerja sama di bidang ekonomi secara luas. Adapun fasilitas GSP adalah program penurunan tarif bea masuk yang diberikan oleh AS kepada negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Indonesia juga telah menyampaikan harapan kiranya fasilitas GSP tetap dapat diberikan oleh AS. Kesempatan investasi di Indonesia sangat terbuka lebar, baik di bidang kesehatan, digital dan transisi energi," ujar Menlu Retno saat menyambut kunjungan Blinken di Jakarta pada Selasa (14/12/2021).
Advertisement
Angka perdagangan Januari-Oktober 2021 mencapai US$29,6 miliar yang mengalami kenaikan 33,9 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu.
Adapun pada 2020, investasi AS di Indonesia mencapai US$749,7 juta. Pada 2021 periode Januari-September 2021 sudah mencapai US$1,3 miliar yang berarti meningkat 73 persen walaupun masih dalam hitungan 9 bulan.
Retno juga menyinggung soal tindak lanjut dari Supply Chain Summit di Glasgow, dimana Presiden Joko Widodo diundang oleh Presiden Joe Biden. Untuk itu, Indonesia mengusulkan pembentukan Task Force on Supply Chain.
Di bidang pembangunan, Indonesia mengapresiasi komitmen AS dalam Millennium Challenge Corporation (MCC) Compact-2 untuk proyek pembangunan berkelanjutan di Indonesia yaitu pembangunan ekonomi hijau, digitalisasi, akses pendanaan serta kesetaraan gender dan pendanaan bagi UMKM perempuan.
Blinken menggarisbawahi komitmen yang kuat dengan Indonesia baik secara bilateral maupun dalam pendekatan Indo Pasifik.
"Kami mengambil langkah, memperdalam, dan memperkuat di antara dua negara di area yang berpengaruh terhadap masyarakat kita. Kita memperdalam kerja sama dalam bidang keamanan maritim, manajemen sumber daya, konservasi perikanan, aktivitas ekonomi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi," ujar Blinken.
Menurutnya, fenomena perubahan iklim telah mengancam kehidupan laut sehingga kerja sama maritim menjadi sangat kritis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kapanewon di Bantul Mulai Siaga Hadapi Kemarau Panjang dan Kekeringan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Babak I Bolivia vs Irak 1-1, Tiket Piala Dunia Dipertaruhkan
- Jadwal Terbaru KRL Jogja Solo 1 April 2026, Pagi hingga Malam
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 1 April 2026
- Prediksi Irak vs Bolivia: Perebutan Tiket Terakhir Piala Dunia 2026
- Dari Kelompok Tani, Sekar Arum Ubah Sampah Jadi Prestasi di Jogja
- Pemkot Jogja Tegaskan Larangan Siswa Tanpa SIM Bawa Motor ke Sekolah
- BGN Kembali Menutup Ratusan Dapur MBG, Ini Penyebabnya
Advertisement
Advertisement








