Ikuti Perintah Jokowi, Pertamina Kebut Proyek Energi Hijau

Petugas mengecek instalasi di PLTP Kamojang, Garut, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021). Pertamina menargetkan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada tahun 2030 diantaranya melalui pemanfaatan energi rendah karbon dan efisiensi energi sebagai komitmen perseroan terhadap implementasi Environmental, Social and Governance (ESG). ANTARA FOTO - Indrianto Eko Suwarso
03 Desember 2021 19:27 WIB Muhammad Ridwan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) langsung mengebot proyek-proyek energi hijaunya setelah mendapatkan arahan dari Presiden Joko Widodo kepada badan usaha milik negara di sektor energi dalam menjalankan proyek dan investasi untuk menyambut era transisi energi.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan untuk energi baru, Pertamina melanjutkan dan memperkuat komitmen inovasi berkelanjutan dengan sukses mengolah Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO) 100% yang menghasilkan produk green diesel (D100) di Kilang Dumai dan ditargetkan rampung 2022. Tidak hanya itu, pada Agustus 2021 lalu, Pertamina memproduksi Bioavtur J2.4.

Saat ini, Pertamina tengah melaksanakan eksekusi revamp TDHT pada proyek Standalone Biorefinery Phase 1 di Kilang Cilacap. Proyek ini ditargetkan rampung pada 10 Desember 2021 mendatang dan lanjut tahap II pada 2023.

Dengan selesainya proyek tersebut, Kilang Cilacap akan mampu memproduksi Biodiesel HVO (D100) dengan kapasitas 3.000 barel per hari (kbpd) dari Feed Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO). Berikutnya, Pertamina melalui Standalone Biorefinery Kilang Plaju ditargetkan rampung pada 2024.

Selanjutnya, pengembangan BBN tersebut akan ditingkatkan pada fase 2, sehingga kelak Kilang Cilacap akan mampu mengolah D100 dengan kapasitas 6 kbpd dari multi-feed yaitu RBDPO, CPO, ataupun minyak jelantah (UCO). Pengembangan Phase 2 ditargetkan akan selesai pada 2024.

"Keseluruhan proyek pengembangan BBN ini merupakan bagian dari upaya Pertamina menghadapi transisi energi yang dampaknya berpotensi mengurangi impor minyak," kata Fajriyah dalam keterangan resminya, Kamis (2/12/2021).

Energi baru lainnya yang sedang dikembangkan Pertamina yakni green hydrogen dan blue hydrogen yang pilot project-nya akan dimulai di lingkungan operasi. Untuk green hydrogen, melalui PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Pertamina menargetkan dapat diproduksi dari seluruh wilayah kerja geothermal Pertamina dengan produksi sekitar 8.600 kg per hari. Pilot project green hydrogen telah dimulai di WK Ulubelu.

Selain itu, melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) sedang menyiapkan proyek mengembangkan blue hydrogen dari proses elektrolisa air dengan sumber energi listrik yang tersertifikasi hijau, menggantikan proses produksi hidrogen konvensional yang mengubah gas alam. Pengembangan blue hydrogen akan difokuskan di Kilang Plaju dan Kilang Cilacap.

“Melalui proyek tersebut, Pertamina dapat mengurangi jejak karbon dalam pembuatan hydrogen. Sehingga, dengan adanya blue hydrogen, maka lini bisnis pengolahan Pertamina juga dapat berkontribusi dalam mereduksi emisi saat operasi dikarenakan sumber hydrogen yang digunakan lebih lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.

Langkah memproduksi energi baru juga dilakukan dalam pengembangan dimethyl ether (DME) yang bersumber dari batu bara. Melalui sinergi PT Bukit Asam Tbk. dan Air Product Chemicals, Inc (APCI), Pertamina akan mulai menjalankan pilot project pengembangan DME di Tanjung Enim.

Untuk pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, Pertamina mengembangkan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) dan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) dengan total kapasitas 153 MW yang ditargetkan selesai 2026. Saat ini, yang telah beroperasi PLTBg di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Sumatra Utara dengan total kapasitas 2,4 MW.

Selain itu, pengembangan energi terbarukan ditetapkan Pertamina dengan mengembangkan proyek pembuatan baterai dan penyimpanan (storage) dalam rangka mendukung tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Melalui Indonesia Battery Corporation, Pertamina bersama BUMN lainnya menargetkan produksi 140 GWh pada tahun 2029 yang diperuntukkan untuk kendaraan roda 2 dan roda 4.

Pertamina juga terus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pertamina menargetkan pada 2026, kapasitas PLTS akan mencapai sekitar 910 MW, di antaranya untuk PLTS di wilayah kerja Rokan yang mencapai 200 MW, PLTS di 5.000 SPBU dengan kapasitas mencapai 31 MW, PLTS Kilang Dumai dengan kapasitas 83 MW dan dilanjutkan ke kilang lain, terminal BBM/LPG dan fasilitas lainnya dari hulu ke hilir mencapai lebih dari 130 MW.

Selain itu, proyek energi terbarukan yang lebih dahulu dikembangkan Pertamina, yakni panas bumi melalui Pertamina Geothermal Energy, Pertamina mengelola 14 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang sebesar 1.877 MW yang terdiri dari 672 MW (own operation) dan 1.205 MW (joint operation).

“Kami memiliki komitmen yang kuat dalam mendukung program pemerintah dalam rangka mewujudkan energi bersih dengan memanfaatkan sumber energi dalam negeri serta fokus menuntaskan proyek demi proyek secara berkelanjutan agar dapat menyediakan energi yang cukup di masa depan,” tandasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia