Advertisement
Mahasiswa UNS Meninggal dalam Diklat Menwa, Pakar Sebut Militerisme Tak Lagi Relevan di Kampus
Ilustrasi - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, SOLO—Wajah resimen mahasiswa (menwa) dalam sorotan setelah meninggalnya seorang peserta diklat Korps Mahasiswa Siaga (KMS) Batalyon 905 Jagal Abilawa UNS. Peristiwa ini dinilai menunjukkan sistem yang tidak beres dalam organisasi bercorak militeristik tersebut. Menwa perlu adaptif dengan iklim demokrasi di kampus sehingga kegiatan mereka kontekstual terhadap perkembangan zaman.
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja, Najib Azca, saat berbincang dengan JIBI, Selasa (26/10/2021). Najib mengatakan Menwa di masa depan perlu diletakkan dalam kerangka pendidikan kampus. Menwa, imbuh Najib, tak bisa lagi mempertahankan pendekatan militeristik seperti halnya saat Orde Baru. “Organisasi bercorak militeristik sudah tidak relevan dengan konteks menghidupkan iklim kampus yang demokratis,” ujar pengajar senior di Departemen Sosiologi UGM itu.
Advertisement
BACA JUGA: Mahasiswa Meninggal akibat Dipukul Saat Ikut Diklat Menwa UNS, 18 Saksi Diperiksa
Pascareformasi, posisi menwa sebenarnya telah dibebaskan dari belenggu militerisme dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yakni Menteri Pertahanan Keamanan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Dalam Negeri. Kebijakan itu membuat menwa hanya menjadi unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bawah penguasaan kampus.
Namun pendekatan militeristik dalam menwa dihidupkan kembali oleh Kementerian Pertahanan pada 2015. Organisasi itu kembali di bawah komando tentara. Najib mengatakan menwa perlu mengembangkan kegiatan yang nirkekerasan jika masih ingin mendapat tempat di kampus maupun masyarakat umum. “Kalau tidak segera berbenah, saya khawatir keberadaan menwa justru melestarikan budaya kekerasan dan otoritarianisme dalam kampus,” ujarnya.
Najib menilai upaya pengembangan karakter dan kedisiplinan dapat dilakukan tanpa harus menggembleng fisik menjurus kekerasan. Menurut dia, penekanan tanggung jawab sosial, solidaritas pada rekan dan komunitas dapat menjadi pendekatan yang inovatif. Selain itu Najib mendorong Menwa mampu mengemas isu ketahanan negara dengan lebih kekinian. “Bagaimana menwa mampu meningkatkan jiwa nasionalisme melalui konten-konten digital yang mencerahkan.”
Meninggalnya peserta diklat Menwa UNS harus menjadi perhatian bagi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Najib menyebut bukan tak mungkin banyak kasus serupa di daerah lain tapi tak terungkap ke publik. “Apalagi sekarang pemerintah sedang menggalakkan program Kampus Merdeka. Artinya kampus perlu memberi ruang kreasi dan inovasi, tentunya yang nirkekerasan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Dilewati 143 Ribu Mobil Saat Lebaran
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- 144 Penyakit Ditanggung BPJS, Ini Daftar Lengkapnya
- Puncak Arus Balik, Penumpang YIA Tembus 17 Ribu
- Patroli China di Laut China Selatan Ancam Energi RI
- Anggaran Bantul Dipangkas, Program Prioritas Jadi Fokus
- Haji 2026 Sleman Aman, 1.650 Jemaah Siap Berangkat
- KLB Campak Meluas, Kemenkes Minta Nakes Siaga
- Houthi Serang Israel, Harga BBM RI Terancam Naik
Advertisement
Advertisement





