Kereta Cepat Tak Balik Modal hingga Kiamat, Kementerian BUMN Tuding Analisis Faisal Basri Konyol

Aktivitas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di salah satu tunnel atau terowongan di kawasan Tol Purbaleunyi KM 125, Cibeber, Cimahi Selatan, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Rachman
15 Oktober 2021 02:27 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menilai pernyataan yang dilontarkan oleh ekonom Faisal Basri soal proyek Kereta Cepat Jakarta -Bandung yang tetap rugi sampai kiamat sebagai hal yang konyol.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyayangkan pernyataan tersebut muncul dari tokoh sekaliber Faisal Basri. Menurutnya tak akan mungkin ada investor yang masuk kalau ternyata proyek itu rugi sampai kiamat.

"Faisal Basri konyol betul dan keliatan beliau tidak pakai angka, analisisnya, hanya subyektifnya aja yang muncul. Jadi itu kesalahan bessar. Sayang sekaliber Faisal Basri tu ngomong seperti itu enggak bener," ujarnya, Kamis (14/10/2021).

Arya pun menyampaikan saat ini Kementerian BUMN masih menghitung dan menunggu angka pembengkakan biaya yang timbul dari konstruksi proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung (KCJB) sembari BPKP melakukan audit. Dengan begitu, baru bisa diketahui angka pembengkakan biaya yang sesungguhnya.

Secara konservatif, Arya memperhitungkan tingkat pengembalian modal kereta cepat baru akan diperoleh hingga 40 tahun mendatang. Perhitungan tersebut baru secara kasar. Kondisi serupa, sebutnya, juga terjadi di proyek MRT dan hampir di seluruh proyek investasi kereta api karena investasi proyek KA merupakan jangka panjang.

Arya kembali menegaskan hampir di semua negara yang melakukan investasi di proyek kereta cepat, MRT akan mengalami periode cukup lama untuk mengembalikan investasi semula.

"Jadi kalau dikatakan sampai kapanpun rugi itu konyol sangat konyol. Sangat disayangkan mana ada investor mau masuk kalau rugi. Jadi saya katakan kali ini sangat disayangkan Faisal Basri kembali lagi konyol untuk analisisanya. Jangan konyol meneyebarkan berita hoax nggak bener di publik tanpa analisa tanpa data apapun," tekannya.

Sebelumnya, ekonom senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menilai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sebagai proyek yang mubazir. Bahkan, dia memperkirakan pendanaan proyek ini tak akan balik modal hingga kiamat.

"Sebentar lagi rakyat membayar kereta cepat. Barang kali nanti tiketnya Rp400.000 sekali jalan. Diperkirakan sampai kiamat pun tidak balik modal," ujarnya dalam sebuah dialog virtual, Rabu (13/10/2021).

Menurutnya, pengerjaan infrastruktur ini hanya membuang anggaran negara. Apalagi saat ini akan didanai dari APBN setelah tersandung masalah pembengkakan biaya hingga Rp27,74 triliun.

Faisal menyebut, sejak awal proyek Kereta Cepat ini sudah ditolak saat rapat koordinasi pada tingkat pemerintah, berdasarkan kajian konsultan independen yakni Boston Consulting Group. Namun, Rini Soemarno yang kala itu menjabat Menteri BUMN berjuang agar proyek ini dapat berjalan.

Alhasil, adanya kesalahan langkah tersebut, imbuhnya, kini berakibat pada masyarakat yang harus ikut membiayai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung melalui APBN.

Namun bukan saja proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, ada sejumlah proyek lain juga yang dinilai mubazir oleh Faisal. Diantaranya Bandara Kertajati, Pelabuhan Kuala Tanjung, dan LRT Palembang.

"Ini proyek mubazir, nggak karu-karuan, kereta cepat sebentar lagi mau disuntik pakai APBN, Bandara Kertajati lebih baik jadi gudang ternak aja. Pelabuhan Kuala Tanjung dibangun dekat Belawan, kemudian LRT Palembang. Kesimpulannya kesalahan pucuk pimpinan," tuturnya.

Meski demikian, Faisal meyakini Indonesia akan survive jauh lebih baik dari krisis 1998. Menurutnya, setiap krisis ada opportunity di dalamnya.

"Saya yakin dunia usaha di Indonesia itu akan mampu survive, jauh lebih ringan dari krisis '98. Setiap krisis, setiap badai, goncangan setiap ancaman, ada opportunity bagi kita semua juga untuk melakukan sesuatu yang baru dengan cara yang berbeda untuk menghasilkan yang lebih baik," pungkas Faisal.

"Boston Consulting Group ini dibayar Bappenas bekerja untuk dua minggu senilai US$150.000, menolak dua proposal [termasuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung]. Tapi Rini Soemarno yang berjuang. Menteri lainnya banyak menolak, tapi Rini ngotot," sebutnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia