Covid-19 Meledak Lagi di China, Lockdown Diberlakukan

Tenaga medis dengan alat pelindung diri menghadapi warga yang mengantre untuk uji asam nukleat di sebuah halaman perumahan, menyusul kasus impor Covid-19 dari negara tetangga Myanmar, di kota perbatasan Ruili, prefektur Dehong, provinsi Yunnan, China, Rabu (16/9/2020). - Antara/Reuters\\r\\n
19 September 2021 23:17 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kasus Covid-19 di kota di bagian tenggara China, Xiamen telah membuat otoritas terpaksa menetapkan lockdown dengan meminta warganya untuk tinggal di rumah dan menutup sebagian tempat umum. Penguncian dilakukan sesaat sebelum musim liburan tersibuk.

Dilansir Channel News Asia pada Sabtu (18/9/2021), Pemerintah China meminta warganya tidak meninggalkan rumah untuk kepentingan yang tidak mendesak, menutup taman, pusat kebugaran, dan menghentikan aktivitas massa termasuk pariwisata, pameran, dan pertunjukan.

Otoritas Xiamen telah menetapkan langkah-langkah full lockdown pada hari pertama liburan festival pertengahan musim gugur yang merupakan puncak musim liburan di China.

Xiamen melaporkan kasus Covid-19 lokal mencapai 92 orang dalam beberapa pekan terakhir. Angka tersebut hampir setengah dari temuan di Putian yang menjadi titik persebaran pertama pada kasus yang dilaporkan pada 10 September.

Pasien pertama di Xiamen diketahui memiliki kontak dekat dengan kasus di Putian, kata otoritas Xiamen.

Xiamen merupakan tempat wisata pemandangan dengan populasi sebesar 5 juta orang. Kota di Provinsi Fujian ini telah melaporkan kenaikan kasus dalam beberapa hari terakhir.

Pengunjung Xiamen tidak diperbolehkan masuk tanpa izin. Kendaraan keluar masuk area pemukiman tanpa kepentingan mendesak dilarang dan makan di tempat, cafe, dan tempat lainnya juga tidak diperbolehkan.

Kedua kota tersebut telah melakukan testing massal. Sejak, 10 September, Provinsi Fujian telah melaporkan 292 penularan komunitas.

Wabah kembali marah sesaat sebelum liburan hari nasional selama sepekan yang dimulai pada 1 Oktober mendatang.

Penularan sejak Juli hingga Agustus telah tercatat di puluhan kota di China, yang berdampak pada pariwisata, hospitality, dan sektor transportasi.

Sumber : Bisnis.com