Hacker Jebol Mata Uang Kripto hingga Rp8,62 Triliun

Cryptocurrency - Reuters/Christinne Muschi
12 Agustus 2021 01:27 WIB M. Nurhadi Pratomo News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Peretas atau hacker melakukan pencurian terbesar yang pernah ada di dunia keuangan terdesentralisasi.

Dilansir dari Bloomberg Rabu (11/8/20210, hakcer mencuri sekitar US$600 juta mata uang kripto atau sekitar Rp8,62 triliun (kurs Rp14.378) dari situs PolyNetwork. Laporan Bloomberg menyebut PolyNetwork merupakan situs yang memungkinkan pengguna menukar token di beberapa blockchain.

BACA JUGA : Mengenal Mata Uang Kripto

Puluhan ribu orang dilaporkan terkena dampak menurut sebuah surat yang diunggah oleh PolyNetwork melalui Twitter. Sekitar US$33 juta dari Tether yang merupakan bagian dari hasil pencurian telah dibekukan oleh penerbita mata uang itu sehingga tidak dapat diakses oleh hacker.

Sistem keuangan terdesentralisasi (defi) tengah melonjak popularitasnya dalam beberapa tahun terakhir. Pengembangan aplikasi telah memungkinkan orang untuk berdagang, meminjam, dan meminjamkan dana satu dengan yang lain tanpa perantara.

Peneliti keamanan SlowMist mengatakan telah menemukan alamat email penyerang, alamat IP, serta sidik jari perangkat.

Chief Executive Officer Binance Changeng Zhao menilai kemungkinan seragangan hacker tersebut telah lama direncanakan.

Salah satu pendiri Elliptic Tom Robinson menyebut peretas telah mulai menggunakan pertukaran terdesentralisasi untuk mengubah aset yang dicuri menjadi aset lain, termasuk stablecoin.

BACA JUGA : Mata Uang Kripto Libra dari Facebook Berpeluang

“Token seperti stablecoin secara teori dapat disita oleh penerbitnya, yang dapat menyebabkan mereka dikembalikan ke pemiliknya yang sah. Namun, ini tidak mungkin untuk Ether yang dicuri meskipun dimungkinkan untuk menyita dana ini jika dikirim ke pertukaran terpusat untuk diuangkan, ” paparnya.

Dengan aplikasi DeFi yang menarik miliaran dana investor, mereka juga sering menjadi sasaran serangan. Tahun ini, peretasan terkait DeFi mencapai lebih dari 60 persen dari total volume peretasan dan pencurian serangan kripto, naik dari 20 persen pada 2020 menurut perusahaan keamanan kripto CipherTrace.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia