Menutup Diri dari Berita Covid-19 Bukan Solusi Mengatasi Stres, Ini Kata Pakar

Hoax. - Kemenkes RI
25 Juli 2021 21:57 WIB Rezha Hadyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Belakangan ini ajakan untuk menghentikan penyebaran informasi mengenai Covid-19 ramai beredar di tengah masyarakat.

Ajakan tersebut diikuti juga oleh munculnya poster di grup komunitas daerah, media sosial atau pesan instan.

Bahkan, ajakan tersebut di beberapa daerah akhirnya memicu respon lanjutan yang mengancam tenaga kesehatan atau pasien Covid-19 beserta keluarganya. Sebagai contoh adalah munculnya larangan ambulans menghidupkan sirine ketika melewati wilayah tertentu hingga perusakan ambulans yang melintas.

Menurut Sosiolog Universitas Nasional Sigit Rohadi, munculnya ajakan untuk menghentikan penyebaran informasi mengenai Covid-19 menandakan bahwa masyarakat dalam kondisi sangat tertekan. Serbuan informasi yang sifatnya negatif, seperti halnya berita duka secara terus menerus akhirnya membuat mereka sulit berpikir jernih.

“Banyak yang berada dalam tingkat ketegangan akut dengan perilaku bermacam-macam. Ada yang parah hingga merusak ambulans lewat karena panik atau takut. Ada yang tiba-tiba panik kebingungan ketika pengeras suara masjid dihidupkan selain di waktu azan, macam-macam,” tuturnya kepada Bisnis.

Lebih lanjut, Sigit menyebut masyarakat yang tertekan akibat informasi bersifat negatif seputar Covid-19 kebanyakan adalah usia paruh baya dan lansia. Hal itu tidak terlepas dari penurunan kognitif seiring bertambahnya usia ditambah dengan rendahnya literasi digital.

Adapun, cara yang bisa dilakukan untuk menghindari tekanan berlebihan akibat serbuan informasi bersifat negatif adalah mengimbangi diri dengan informasi yang bersifat positif. Selain itu, sebisa mungkin jangan pernah bergantung kepada satu sumber informasi, terlebih sumber tersebut belum bisa dipastikan asal usulnya seperti informasi yang beredar di media sosial atau grup pesan instan.

“Harus diimbangi dengan berita-berita positif, contohnya berita masyarakat saling membantu lewat berbagai gerakan sosial, mengantar makanan, tabung oksigen. Narasi positif ini juga perlu dibangun karena informasi yang melulu satu hal menimbulkan ketegangan pikiran atau sakit fisik psikosomatis,” ungkapnya.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Omni Hospital dr. Andri, Sp. KJ mengatakan gangguan psikosomatis merupakan keluhan gejala fisik yang muncul akibat pikiran dan emosi yang dirasakan seseorang. Gangguan tersebut bisa berasal atau diperburuk oleh stres dan rasa cemas.

Menurut Andri, gangguan psikosomatis tidak boleh dibiarkan lantaran dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Selain itu, gangguan tersebut juga bisa memicu seseorang untuk mencari rasa aman secara instan, seperti mengonsumsi obat-obatan atau suplemen makanan secara berlebihan yang tentunya dalam jangka panjang berdampak buruk bagi tubuh.

“Mendapatkan berita mengenai Covid-19 dari keluarga, teman-teman, tetangga, atau dari sumber lainnya secara terus menerus tentunya membuat tidak nyaman. Memberikan suasana tidak baik mengaktifkan respon stres yang tidak baik jika berlebihan,” paparnya.

Walaupun demikian, bukan berarti solusi dari permasalahan tersebut adalah menutup diri dari informasi mengenai Covid-19. Karena bagaimanapun juga informasi tersebut tetap dibutuhkan untuk meningkatkan kewaspadaan yang secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap respon sistem kekebalan tubuh.

“Saya menyarankan kita semua untuk mengambil jarak. Berikan waktu cukup sejam sehari membaca berita berkaitan dengan Covid-19 dan kematian yang diakibatkannya. Siapkan diri Anda sebelumnya dengan membaca artikel yang menyenangkan atau melakukan relaksasi dan meditasi,” ujar Andri.

Sementara itu, Ketua Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito meminta masyarakat untuk mencari informasi dari hanya dari sumber yang terpercaya untuk menghindari kesimpangsiuran. Karena tidak dapat dipungkiri jika informasi yang simpang siur selama ini menjadi pemicu ketakutan masyarakat.

“Untuk meminimalisasi kesimpangsiuran dan terlalu banyak sumber. Maka, carilah informasi ke sumber terpercaya, yaitu dari kanal milik pemerintah seperti Satgas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan,” katanya kepada Bisnis.

Menurut Wiku, ajakan untuk menghentikan penyebaran informasi mengenai Covid-19 merupakan sebuah kekeliruan. Pasalnya, sikap kehati-hatian yang ada selama ini bisa terbangun karena adanya pengetahuan dari masyarakat.

“Oleh karena itu, kebutuhan akan informasi demi tingkat kesadaran yang tinggi ialah dengan selalu memperbaharui diri dengan dinamika yang ada khususnya terkait konteks Covid-19,” pungkasnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menilai banjir informasi yang tidak tepat memberikan pengaruh besar terhadap pemulihan pandemi Covid-19 di Indonesia. Menurutnya, sudah banyak korban dari masifnya penyebaran informasi yang keliru mengenai pandemi Covid-19, terutama di platform digital.

"Saya instruksikan kepada semua platform digital untuk lebih proaktif melakukan penanganan konten hoaks, turut mengamplifikasi pesan yang membangun optimisme dan kekuatan bangsa, serta turut menyebarkan informasi kebijakan dan penanganan Covid-19 oleh pemerintah, termasuk percepatan vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan," ujarnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, sampai Kamis (22/7/2021) temuan berita bohong atau hoaks seputar Covid-19 mencapai 1.786 dengan total sebaran mencapai 3.949. Adapun, perinciannya adalah Facebook sebanyak 3.314, Instagram 32, Twitter 554 dan YouTube 49.

Sejauh ini, dari keseluruhan temuan hoaks mengenai Covid-19, sebanyak 3.376 diantaranya sudah diturunkan dan 518 lainnya sedang ditindaklanjuti. Kemkominfo juga mencatat 767 penegakan hukum terkait hoaks tersebut.

Sumber : Bisnis.com