Begini Cara Covid-19 Memengaruhi Otak Menurut Penjelasan Ahli

Otak
22 Juli 2021 22:07 WIB Janlika Putri Indah Sari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Virus corona bukan hanya menyerang organ pernapasan. Tapi juga diketahui memengaruhi otak.

Dilansir dari indianexpress, Kamis (22/7/2021) menurut sebuah studi oleh WebMD, sekitar 1 dari 7 orang, yang memiliki Covid-19 telah mengembangkan efek samping neurologis atau gejala yang mempengaruhi fungsi otak. Mereka telah mengalami kebingungan, kehilangan penciuman, stroke yang mengancam jiwa, dan bahkan kematian.

Direktur neurologi di Institute of Neurosciences, Medanta, Dr Vinay Goyal menjelaskan berdasarkan penelitian yang dilakukannya.

Berikut empat cara utama virus Covid-19 dapat memengaruhi otak:

1. Virus mungkin memiliki kapasitas untuk menyusup ke otak sehingh menyebabkan infeksi yang parah dan tiba-tiba. Hal ini dapat terjadi karena virus Covid-19 memasuki aliran darah atau ujung saraf yang ditunjukkan dengan hilangnya penciuman.

2. Sistem kekebalan tubuh dalam upaya untuk memerangi virus Covid-19 dapat menghasilkan respons inflamasi maladaptif. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada jaringan dan organ.

3. Perubahan fisiologis yang dialami tubuh karena virus Covid-19 dapat menyebabkan disfungsi otak.

4. Kecenderungan pada pasien untuk menderita stroke. Sistem pembekuan darah pada pasien dengan penyakit ini sangat tidak normal, dengan kemungkinan pembentukan gumpalan jauh lebih tinggi. Jika gumpalan darah ini mempersempit arteri yang menuju ke otak, seseorang dapat menderita stroke.

Kabut otak atau Brain Fog adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut komplikasi Covid-19 pada otak. Dr Goyal mengatakan itu mencakup berbagai gejala yang tersisa dari virus Covid-19 yang berhubungan dengan otak.

“Gejala ini biasanya dialami beberapa minggu setelah sembuh dari virus Covid-19. Beberapa tanda yang paling umum termasuk kehilangan ingatan jangka pendek, rentang perhatian yang buruk atau kelelahan. Orang lain mungkin menderita gejala yang lebih serius seperti kebingungan, kehilangan penciuman dan rasa, sakit kepala, kejang dan stroke. Ini karena kadar oksigen yang rendah untuk jangka waktu yang lama," paparnya.

Dia juga mengatakan, di antara efek kognitif utama, banyak pasien ICU yang mengalami kegagalan pernapasan akut atau syok karena sebab apa pun, menunjukkan tingkat kerusakan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mengalami cedera otak traumatis sedang.

Ini memengaruhi memori, fungsi dan perhatian dan mengarah ke tantangan jangka panjang lainnya seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Pasien yang menderita silent stroke atau kekurangan oksigen yang merusak otak mereka rentan terhadap efek kognitif jangka panjang.

Stroke diam mempengaruhi materi putih otak, sehingga menghambat komunikasi. Hal ini menyebabkan tantangan dalam perhatian berkelanjutan.

Oleh karena itu, dokter menyarankan Anda untuk mewaspadai tanda dan gejala ini setelah pemulihan, dan segera menghubungi manajemen dan pengobatan yang tepat waktu.

Sumber : Bisnis.com