Waspada! Varian Delta Kudus 60 Persen Lebih Menular

Ilustrasi. - Freepik
16 Juni 2021 23:47 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Varian virus corona delta atau disebut dengan kode B.1.617.2 yang ditemukan di Kudus lebih menular nyaris 60% dibandingkan sejumlah varian sebelumnya. Varian ini juga lebih menurunkan imun tubuh.

Ketua Tim Genomic FKKMK UGM Gunadi menjelaskan variant of interest disebutkan jenis ini terbukti memberikan implikasi gejala baik klinis maupun menganggu diagnosis. Selain itu disertai persebaran secara cepat di masyarakat membentuk klaster dan transmisi. Status varian meningkat atau disebut varian of concern jika mutasi menyebabkan pengaruh kesehatan masyarakat secara global. Selain itu disertai sejumlah kriteria seperti meningkatkan transmisi penularannya dan menurunkan efektivitas protokol kesehatan sehingga disebut variant of concern. Varian Beta dan Delta termasuk variant of concern.

Ia menambahkan varian beta meningkatkan resiko terinfeksi kembali baik individu yang telah kebal, baik karena infeksi alamiah Covid-19 maupun vaksinasi. “Adapun varian gama memiliki pengaruh yang sama terhadap antibodi, yaitu menurunkan respons imun, dan terapi antibodi,” katanya dalam webinar Varian Virus Corona Delta di Kudus; Kenali dan Tingkatkan Kesiapan Diri, Komunitas dan Sistem Pelayanan Kesehatan, Rabu (16/6/2021).

Ia menambahkan transmisi varian delta sebesar 41% hingga 60% lebih menular dibandingkan varian alfa yang 70% lebih transmissible dibandingkan Wuhan. Sehingga varian delta sangat jauh lebih mudah menular dibandingkan virus Covid-19 yang berasal dari Wuhan.

“Kalau boleh pinjam tagline UGM, mengakar kuat menjulang tinggi itulah posisi varian delta saat ini. Jadi kita harus betul-betul waspada dengan varian delta ini,”katanya.

Varian Delta juga menunjukkan lima sampai enam kali penurunan respons imun. Selain itu semakin tinggi usia maka respons imun kian menurun. “Neutralizing antibody pada akibat adanya varian delta ini secara signifikan memang menurun bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan alfa,” katanya.

BACA JUGA: Covid-19 di Jogja Meledak Lagi, Pemda DIY Siapkan Pasokan Oksigen

Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM Riris Andono Ahmad mengatakan pengendalian Covid-19 adalah untuk menurunkan angka reproduksi. Saat ini angka reproduksi memiliki tiga faktor utama. Terdiri atas peluang tertular ketika kontak dengan sumber penularan, frekuensi kontak atau semakin tinggi mobilitas mala peluang kontak makin meningkat serta faktor terakhir adalah durasi infeksi.

“Ketiga faktor ini sangat berpengaruh terjadinya peningkatan kasus, semakin sering dekat-dekatan, tidak memakai masker maka akan meningkatkan angka reproduksinya. Semakin sering melakukan mobilitas dengan banyak orang maka angka reproduksi meningkat,” katanya.

Terkait varian delta, kata dia, memiliki ikatan kuat terhadap reseptor sehingga lebih mampu menyebabkan infeksi terutama jika sudah masuk ke saluran pernafasan. “Jika ada varian baru lalu kita tidak memakai masker maka peluang penularan meningkat,” katanya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan penanganan Covid-19 tidak boleh dilakukan dengan panik. Selain itu perlu sinergi antar rumah sakit sehingga bisa saling memberikan bantuan.

“Kami masih kekurangan dokter, apakah dokter yang sedang internship itu boleh ditarik, tentu dari IDI kampus bisa memberikan perhatian, hari ini kondisi darurat butuh SDM banyak. RS diminta menambah, terutama ICU, memang ada yang bilang berat, enggak ada istilah berat,” ujarnya.