Peristiwa Mei 1998, Dokter Tirta: Kantor Mama Saya Dibakar

Kerusuhan saat krisis moneter di Jakarta, Mei 1998. Bisnis
16 Mei 2021 14:47 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Tragedi 12 Mei 1998 telah berlalu 23 tahun lalu, tapi kenangan orang atas kejadian itu tetap melekat hingga saat ini.

Terutama, bagi mereka yang merasakan langsung dampak dari peristiwa yang terjadi saat itu. Salah satunya adalah dokter Tirta yang selama ini dikenal vokal dalam menyuarakan soal Covid-19.

Di akun twitternya, dia menceritakan pengalaman pahitnya saat terjadi peristiwa Mei 1998 tersebut. Sebagai salah satu keturunan Tionghoa, dia mengaku orang tuanya menjadi korban saat kantor tempatnya bekerja dibakar massa.

BACA JUGA : Hari Ini, Mengenang Tragedi 12 Mei 1998, Penembakan 4

Akibat kejadian itu, ibunya, mengalami shock dan sempat histeris bahkan tanpa kabar selama berjam-jam.

Beruntung, tempat tinggal keluarga mereka melindungi sehingga merekapun selamat. Berikut utasan lengkap dr Tirta di akun twitternya.

13-15 mei 98, saya di solo, kelas 2 SD. Kantor mama saya dibakar. Mama saya loncat dan masih bisa selamat sampe rumah. Matahari singosaren dibakar. Saya sendiri dilindungin tetangga saya, dan kawan2 kampung sembunyi di rumah mereka

Papa saya pusing, kantor mama saya saat itu singosaren, papa saya d pedan Lampu padam, dan saya dirumah emng terbiasa sendiri Papa saya memilih ke rumah nemenin saya Pasrah kejadian apapun yg menimpa mama saya Papa saya jawa Mama saya keturunan tionghoa

7 jam mama saya ga ada kabar, akhirnya sampe ke rumah, dianterin temen2 nya Kondisi mama saya histeris, saya masih ingat, dan masuk kamar d tenangin tetangga Kampung saya baturan, bapak2 nya berjaga di gang Di depan rumah ditulis "milik pribumi"

Saya saat itu , mau ga mau memahami yg terjadi Esoknya 16:17 mei, saya memaksa tetangga saya nganterin diem2 ke lokasi pembakaran: singosaren Disitu saya melihat bangkai kantor mama saya Dan singosaren ancur lebur.

Saya pake kacamataitem. Jaket. Helm kecil. Jadi ga tau kalo saya bermata sipit Di singosaren itulah saya melihat mayat pertama kali Yang gosong terperangkap karena kepanggang di dalem

Entah kenapa memori itu selalu saya inget. Dan menjadikan saya lebih keras dan temperamental Apalagi stelah mei 98, Terjadi gap antara ras tionghoa dengan pribumi Dan saya terlahir dari bapak jawa dan mama tionghoa Akibatnya! Ye di skolah saya susah cari temen hahaha

Selain dr Tirta, banyak warganet yang juga mengungkapkan pengalaman atau kisah orang tuanya saat peristiwa Mei 1998 tersebut. Semisal oleh akun @senjatanuklir dengan pemilik akun Aurelie Vizal.

Dia mengungkapkan jika ayahnya, pemilik salah satu toko elektronik di Mangga Dua, semua dagangannya raib dan ia harus mulai dari awal lagi sebagai anak rantau ibukota.

Karena saat itu, 15 Mei 1998, pusat perbelanjaan dijarah dan dibakar.

Dia juga menceritakan ketika seorang ibu-ibu Tionghoa berteriak mempertanyakan kenapa dia diserang, saat pagar rumahnya dilempari barang.

BACA JUGA : Ini Imbauan Pemkab Bantul Agar Tragedi Sate Beracun Tak

"I can’t believe some people still deny what happened to this day. The pain still exists. The trauma still persists," tulisnya di akun twitternya.

Saat itu, katanya, tulisan ‘Milik Pribumi’ digantung atau ditulis di depan toko untuk memastikan tempat usaha orang-orang tidak dijarah.

Bukan hanya di Jabodetabek, lanjutnya, kerusuhan besar terjadi di Medan (4-8 Mei), Jakarta (12-15 Mei), dan Solo (13-15 Mei). Insiden juga terjadi di beberapa daerah lain, tapi kerusakan masif terjadi di tiga kota ini.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia