Salat Id Berjemaah Saat Pandemi, Amankah? Ini Rekomendasi Pakar

Ilustrasi - Umat muslim melaksanakan salat Idulfitri 1440 H, di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (5/6/2019). - Reuters/Willy Kurniawan
10 Mei 2021 12:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Beberapa hari lagi umat Muslim akan memasuki Lebaran Idulfitri 1442 Hijriah/2021 Masehi.

Perayaan Hari Raya Lebaran akan diawali dengan salat Idulfitri atau salat Id berjemaah yang biasanya dilakukan di lapangan terbuka, ada juga yang berlangsung di masjid.

Lantas, amankah salat Id berjemaah di saat pendemi Covid-19 masih berlangsung?

Sejumlah pakar kesehatan seperti dilaporkan Antara, Senin (10/5/2021) membolehkan salat Idul Fitri atau Id di luar rumah secara berjemaah pada masa pandemi. Syaratnya, patuhi protokol kesehatan.

Beberapa waktu lalu, E484Q yang sedikit banyak ada kemiripan dengan mutasi E484K yang pertama kali di deteksi di Afrika Selatan dan Brasil, kemudian B1351 dan B117, sudah ditemukan di Indonesia. Mutasi dan varian ini diketahui lebih menular ketimbang virus aslinya, sehingga mungkin saja berpengaruh pada efikasi vaksin.  

Dokumen resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin AstraZeneca kemungkinan kurang efektif untuk B1351, sementara belum ada laporan penelitian yang cukup memadai tentang efikasi Sinovac dan Sinopharm terhadap varian baru ini. 

Walau begitu, para pakar sepakat protokol kesehatan secara ketat menjadi hal wajib demi menurunkan angka penularan dan menghindari klaster baru Covid-19, termasuk saat Lebaran. 

Guru Besar Paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, ada tidaknya varian Corona jaga jarak setidaknya satu meter dengan orang lain tetap harus dilakukan.

Selain itu, semua orang harus mengenakan masker termasuk saat salat Id. Hal ini juga berlaku saat salat tarawih selama Ramadan dan salat wajib berjemaah di masjid. 

Ketua Tim Pedoman dan Protokol dari Tim Mitigasi PB IDI Eka Ginanjar menekankan pentingnya memperhatikan area apakah masuk zona merah atau bukan. Juga harus diperhatikan banyak tidaknya pendatang dari luar area sehingga risiko dapat dinilai.

Hal ini sesuai surat edaran Kementerian Agama tentang panduan ibadah Ramadan dan Idulfitri. Surat edaran tersebut menyatakan kegiatan-kegiatan ibadah dengan kapasitas 50 persen ruangan untuk wilayah berzona hijau dan kuning.

Sementara untuk wilayah yang masuk zona merah dan oranye, segala macam kegiatan ibadah dilarang karena dikhawatirkan akan menyebabkan klaster baru penularan di masyarakat. 

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menegaskan bahwa pelaksanaan salat Id [berjemaah] hanya boleh dilakukan di zona hijau dan kuning dengan protokol kesehatan dan pembatasan 50 persen jemaah. 

Menurut Eka, yang mengambil spesialisasi penyakit dalam, sebelum jemaah melaksanakan salat, perlu adanya pemeriksaan suhu tubuh. Dia juga mengingatkan jangan sampai ada yang melanggar aturan menjaga jarak. 

"Protokol kesehatan dilaksanakan ketat dengan mewajibkan pakai masker, screening suhu, mencuci tangan dan jangan berkerumun," kata dia. 

Kemudian pada pelaksanaan salat Id semua orang wajib memperhatikan sejumlah hal yakni memiliki ventilasi bagus apabila di dalam ruangan, durasi pendek (jangan terlalu lama salatnya) serta jarak terjaga dengan pengaturan shaf yang baik. 

Lebih khusus mengenai masker, para pakar kesehatan mengutamakan masker bedah yang pas di wajah ketimbang masker kain. Masker bisa menghalangi partikel air liur yang keluar dari mulut dan hidung mengenai orang lain. 

Masker bedah memiliki kemampuan filtrasi lebih baik dengan memblokir partikel lebih kecil dan menawarkan lebih banyak perlindungan pada pemakainya daripada masker kain satu lapis. Fungsi ini akan baik apabila masker dikenakan secara benar, termasuk rutin menggantinya. 

Dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional "Veteran", Jakarta, Yohan Samudra mewajibkan setiap orang tidak melepas masker hingga kembali ke rumah masing-masing. 

"Tentu saja semua diwajibkan memakai masker dan tidak dilepas hingga kembali ke rumah masing-masing," kata Yohan. 

Lokasi Salat

Mengenai lokasi pelaksanaan salat Id, para pakar termasuk Tim Mitigasi COVID-19 PB IDI, dr. Ulul Albab merekomendasikan tempat terbuka seperti lapangan sepak bola atau parkiran.

Dengan begitu sirkulasi udara cukup serta dapat menjaga jarak dengan baik, ketimbang salat Id dilakukan di dalam ruangan.   

"Salat Id di tempat terbuka dianjurkan dibandingkan di tempat tertutup, dan penggunaan masker bedah lebih diutamakan dibandingkan masker kain," kata Ulul. 

Kalaupun berlangsung di ruang tertutup, pihak penyelenggara harus memastikan ada aliran udara yang memadai. Begitu kata Yoga yang pernah menjabat Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Kepala Balitbangkes.

Hal itu, ujar Yoga, perlu demi menurunkan kemungkinan penularan Covid-19 saat salat. 

Agar bisa salat dengan aman, Yohan yang berpraktik di Primaya Hospital Tangerang, menyarankan jemaah berwudhu dari rumah. Sehabis salat Id berjemaah segera lah mencuci perlengkapan salat begitu sampai di rumah.

Di sisi lain, Ulul mengingatkan agar masarakat tidak memaksakan diri berangkat ke lokasi salat jika kondisi tubuh tidak fit, semisal ada gejala batuk, pilek, atau demam. 

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, dr. Muh. Khidri Alwi memberi tambahan.

Ia menggarisbawahi bahwa pelaksanaan salat dengan menerapkan protokol kesehatan diharapkan tidak menempatkan jemaah pada risiko terkena Covid-19.  

"Betul-betul patuhi protokol kesehatan. Kalau salat berdempet-dempetan, kita ragu juga. Risiko jauh lebih berkurang kalau di lapangan dibandingkan di masjid karena terbuka.

Apabila ada tanda-tanda sakit semisal batuk atau demam sebaiknya tidak salat [Id berjemaah]," tutur dia.  

Pendeknya, pelaksanaan salat Id berjamaah di masa pandemi harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Pelaksanaan salat dianjurkan dilakukan di tempat terbuka.

Jemaah sebaiknya mengenakan masker bedah selama ibadah berlangsung hingga kembali ke rumah masing-masing. 

Selain itu, tidak masalah jika Anda menunaikan salat Id di rumah dan tidak membuat kerumunan. Pilihan ini bisa menjadi upaya untuk menghindarkan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terpapar Covid-19.

Sumber : Antara