KPK Ungkap Biaya Politik Jadi Pemicu Kepala Daerah Korupsi
KPK menyebut tingginya biaya politik menjadi salah satu faktor risiko korupsi kepala daerah. Sebanyak 15 kepala daerah hasil Pilkada 2024 telah menjadi tersangk
Kemasan vaksin Covid-19 diperlihatkan di Command Center serta Sistem Manajemen Distribusi Vaksin (SMDV) PT Bio Farma (Persero), Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/1/2021). Bisnis/Rachman
Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah menggenjot pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk mencapai kekebalan massal atau herd immunity.
Jutaan tenaga kesehatan, lansian berusia di atas 60 tahun, dan pekerja publik menjadi sasaran vaksinasi Covid-19 yang dimulai sejak awal 2021.
Selain membatasi umur dan jenis pekerjaan, pemerintah juga memberikan catatan bagi warga yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid, seperti kanker, hipertensi atau diabetes tak dapat jatah vaksin kali ini.
Kelompok tersebut mesti mununggu sampai ditemukan vaksin yang aman untuk usia lanjut pun punya komorbid maupun penyakit diatas.
Sementara itu, pemerintah meminta golongan yang belum menerima vaksin saat ini untuk menjaga diri dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan sampai ada pasokan vaksin tambahan.
Dilansir dari situs resmi kementrian kesehatan, da 6 jenis vaksin yang sudah dan akan dipakai pemerintah, yaitu Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Sinopharm, serta vaksin yang sedang diproduksi oleh PT Bio Farma atau vaksin Merah Putih.
Secara umum vaksin Covid-19 menimbulkan efek samping ringan dan cepat hilang. Namun, tiap vaksin memiliki dosis, efektivitas, serta efek samping yang berbeda.
Berikut penjelasan mengenai 6 jenis vaksin dan digunakan di Indonesia dan efek samping yang ditimbulkan seperti dikutip dari Tempo.co:
1. AstraZeneca
Vaksin ini dibuat dari adenovirus yang direkayasa dengan menambahkan kode genetika virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Peneliti mencatat jenis vaksin ini tidak ada efek samping serius pada semua usia.
Namun, penggunaan AstraZeneca ditangguhkan di beberapa negara Eropa karena isu pembekuan darah.
2. Pfizer & BioNtech
Vaksin Pfizer & BioNtech dikembangkan oleh peneliti dari perusahaan Pfizer yang berbasis di New York dan perusahaan Jerman BioNTech. Vaksin ini diambil dari molekul genetik virus SARS-CoV-2 yang disebut RNA (mRNA).
Vaksin jenis ini disebut tidak menimbulkan efek samping yang serius, hanya sekadar kelelahan, demam, dan nyeri otot dalam waktu singkat.
3. Moderna
Vaksin Moderna berasal dari mRNA. Jenis ini diperuntukan bagi kelompok usia 18 sampai 55 tahun. Efek samping vaksin ini bisa menyebabkan demam, menggigil, kelelahan, serta sakit kepala. Selain itu pada bagian yang disuntik bisa menimbulkan sedikit bengkak, kemerahan, dan nyeri yang segera hilang. Paling lama dalam waktu seminggu.
4. Sinopharm
Cara kerja jenis vaksin Sinopharm dengan memberikan sistem kekebalan agar membuat antibodi melawan virus corona SARS-CoV-2. Selanjutnya antibodi menempel pada protein virus dan membentuk sistem kekebalan tubuh dapat merespons infeksi virus Corona hidup.
5. Vaksin PT Bio Farma
Fasilitas produksinya sudah teruji klinis dibuktikan dengan adanya Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) atau Good Manufacturing Practice (GMP) yang diserahkan secara resmi oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Badan POM) kepada pihak Bio Farma.
6. Sinovac
Jenis vaksin Sinovac paling banyak dipakai di Indonesia. Sebelumnya, peneliti Brasil mengatakan Sinovac hanya memiliki keefektifan lebih dari 50 persen. Sebaliknya justru di Turki menunjukkan hasil efikasi mencapai 91,25 persen.
Adapun, efek sampingnya bisa menyebabkan demam, kelelahan, dan sedikit ngilu di badan. Tak perlu khawatir, efek tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
KPK menyebut tingginya biaya politik menjadi salah satu faktor risiko korupsi kepala daerah. Sebanyak 15 kepala daerah hasil Pilkada 2024 telah menjadi tersangk
Cuaca DIY Minggu 19 Juli 2026 diprakirakan cerah berawan. Simak suhu udara dan kelembapan di Kota Jogja hingga Gunungkidul.
Sebanyak 73 sekolah di Sleman mengajukan edukasi mitigasi bencana kepada BPBD selama MPLS 2026. Materi disesuaikan dengan potensi bencana wilayah
Pemkab Bantul masih mematangkan persiapan pembangunan PSEL, mulai dari penyiapan lahan hingga penyusunan MoU dan PKS bersama Danantara.
KPK mengusulkan kampanye akbar ditinjau ulang dan mendorong kampanye digital untuk menekan biaya politik serta mencegah korupsi.
Dispetaru Bantul menyusun SPPR 2026-2030 untuk menyelaraskan program pembangunan lintas OPD dengan RTRW agar pembangunan lebih terarah.