Konsultan: 70 Persen Karyawan Berkinerja Tinggi dengan Bekerja dari Rumah

Ilustrasi work from home - Istimewa
18 Maret 2021 19:07 WIB Yanita Petriella News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mengungkapkan 7 dari 10 pekerja berkinerja tinggi menjalani pekerjaan secara fleksibel termasuk jam kerja yang fleksibel dan bekerja dari rumah.

Untuk diketahui, JLL telah meluncurkan Human Performance Indicator (HPI), formula baru yang memberikan pandangan komprehensif tentang bagaimana berbagai aspek di tempat kerja seperti ruangan, teknologi, dan budaya berkontribusi dalam meningkatkan kinerja manusia.

Hasil HPI Asia Pasifik didasarkan pada studi online yang mencakup Australia, China, India, Jepang, dan Singapura.

Head of Corporate Solutions Research JLL Asia Pacific James Taylor mengatakan survei HPI terhadap 1,500 karyawan di lima negara di Asia Pasifik menemukan bahwa 'Para Pekerja Berkinerja Tinggi', yaitu mereka yang memiliki akses ke lingkungan kerja berdampak tinggi, menunjukkan peningkatan produktivitas dalam model kerja hybrid yang didukung oleh berbagai teknologi mutakhir dan ruang kerja modern.

Sebanyak 7 dari 10 pekerja berkinerja tinggi menjalani pekerjaan secara fleksibel termasuk jam kerja yang fleksibel dan bekerja dari rumah.

Sementara itu, hanya 34 persen dari para pekerja berkinerja rendah melakukan hal yang sama. Para pekerja berkinerja rendah adalah mereka yang merasa tidak memiliki akses ke lingkungan kerja kolaboratif, teknologi canggih, atau budaya inklusif.

Pekerja di bidang teknologi (53 persen) dan profesional muda berusia 25 hingga 34 tahun (37 persen) merupakan mayoritas dari pekerja berkinerja tinggi.

Meski para pekerja berkinerja tinggi mendominasi pekerjaan yang dijalankan secara fleksibel, mereka juga merasa bahwa kantor merupakan faktor yang penting sebagai pendukung kinerja.

Setidaknya 8 dari 10 (84 persen) pekerja mengatakan bahwa mereka merindukan kerja dari kantor selama lockdown, karena hal tersebut memungkinkan mereka mengakses berbagai ruang dan teknologi untuk produktivitas dan kolaborasi.

“Ekspektasi bekerja saat ini telah berubah karena pandemi. Bekerja bukan lagi mengenai ke mana anda pergi, tetapi apa yang anda lakukan," ujarnya melalui keterangan tertulis pada Kamis (18/3/2021).

Hal ini memperjelas bahwa sebuah organisasi harus menemukan cara yang memungkinkan karyawan melakukan pekerjaan secara efektif dan memaksimalkan kinerja mereka untuk kesuksesan bisnis.

Hal tersebut tidak mungkin dilakukan dengan satu cara saja, dan penelitian kami menunjukkan bahwa formula baru untuk kinerja yang baik adalah hal yang menggabungkan peran penting untuk keberadaan kantor fisik yang dikombinasikan dengan budaya perusahaan dan teknologi pada tempat kerja.

Pekerja yang disurvei memberikan skor berdasarkan ketersediaan dan pengaruh pada tempat kerja, peralatan teknologi, dan aspek budaya.

Penilaian ini kemudian digunakan untuk menentukan skor akhir HPI. Skor HPI bervariasi mulai dari 0 hingga 100, dan membantu mengidentifikasi lingkungan dan kondisi bekerja yang dapat meningkatkan kinerja pekerja.

Riset tersebut menemukan bahwa hanya sepertiga tempat kerja di Asia Pasifik yang menyediakan lingkungan yang mendukung pekerja untuk bekerja lebih baik.

Peningkatan akses, baik ke tempat kerja maupun teknologi yang canggih merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kinerja, sejalan dengan temuan HPI bahwa semakin beragam dan inovatif ruang kerja serta teknologi yang disediakan, maka semakin tinggi pula kepuasan karyawan terhadap tempat bekerja. 

Berperan dan berkembang sebagai social hub adalah kunci keberhasilan tempat kerja pada masa depan: 96 persen pekerja produktif memperlihatkan fakta bahwa mereka memiliki akses terhadap ruangan atau tempat yang memungkinkan adanya interaksi informal di antara rekan kerja, seperti misalnya teras luar ruangan, ruang permainan, serta kedai kopi dan barista di lingkungan kerja.

"Bekerja sendirian akan membuat orang merasa terkucil dan teknologi belum mampu sepenuhnya menutupi kurangnya kontak personal," katanya.

Kebutuhan akan komunitas yang utuh inilah yang membuat lingkungan perkantoran menjadi berbeda. Keberadaan ruang sosial menciptakan ikatan sosial yang lebih kuat di antara pekerja, yang berpengaruh positif terhadap kinerja kolektif mereka.

Director Corporate Solutions Research JLL Asia Pasific Kamya Miglani menuturkan pada saat perusahaan-perusahaan menyambut masa depan bekerja, para pemberi kerja seharusnya berusaha untuk membuat pekerja menampilkan kinerja terbaik mereka dengan cara memberikan fleksibilitas kerja yang cocok dengan gaya mereka.

Selain itu juga merancang suasana ideal untuk memacu kreativitas dan inovasi, menciptakan lingkungan kerja yang mengutamakan hubungan yang terbuka dan peduli, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dengan visi dan tujuan yang sama.

"Ruangan kerja masa depan harus berpusat pada para pekerja dan menawarkan kebebasan, pilihan, dan pemenuhan diri,” ujarnya.

Pemahaman penting lain mengenai pekerja berkinerja tinggi di Asia Pasifik yakni 95 persen mengatakan bahwa mereka telah siap secara teknologi untuk bekerja jarak jauh ketika dunia memberlakukan lockdown dan keadaan yang memungkinan mereka bekerja secara fleksibel. Lalu 98 persen dari mereka setuju bahwa pemimpin memungkinkan mereka mencapai potensi penuh secara profesional.

Setidaknya 70 persen dari pekerja berkinerja tinggi dapat menemukan sebuah ruang khusus untuk membicarakan topik yang rahasia dan 61 persen dari mereka memiliki seorang mentor di tempat kerja.

Sumber : Bisnis.com