Advertisement
Kemendikbud Tegaskan SKB 3 Menteri untuk Lindungi Hak Anak dalam Beragama
Ilustrasi - Siswa mengikuti KBM tatap muka di SD Negeri 26 Sukajadi, Banyuasin, Sumatra Selatan, Senin (7/9/2020). - Antara/Nova Wahyudi
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama mengatur tentang kebebasan penggunaan seragam khas keagamaan. SKB ini dibuat untuk menjamin kebebasan beragama bagi peserta didik.
Dirjen Paudasmen Kemendikbud Jumeri mengatakan meskipun ada yang sikapnya menolak terhadap SKB ini dan sampai ada yang mengusulkan pembatalan karena diterbitkan pada masa pandemi, Kemendikbud menyatakan menghargai perbedaan pendapat.
Advertisement
“Perbedaan harus bisa kita terima. Tapi SKB ini meskipun di masa pandemi karena memang ada kejadian ada momentum yang baik. Kita kadang butuh momentum untuk mengambil langkah signifikan untuk penyelesaian masalah jangka panjang,” ujarnya pada konferensi pers, Kamis (11/2/2021).
Dia mengungkapkan bahwa SKB ini bahkan diapresiasi Wakil Presiden Ma’ruf Amin sebagai bentuk kedewasaan beragama berbangsa dan bernegara. Jumeri mengungkapkan, ketiga menteri mengambil momentum ini karena ada peristiwa dan terjadi pada masa pandemi.
“Jadi besok ketika masuk lagi, belajar tatap muka, sudah ada suasana baru yang lebih nyaman di sekolah tidak ada proses pelarangan atau kewajiban pada anak dan tenaga kependidikan untuk menggunakan atribut keagamaan,” jelasnya.
Adapun, aturan ini ditegaskan hanya berlaku untuk sekolah negeri, tidak untuk sekolah madrasah dan sekolah keagamana lainnya yang operasinya berada di bawah Kementerian Agama.
“Ini karena sekolah negeri punya negara, bisa dimasuki siapa saja, dari daerah mana saja, dari agama apa saja. Ini justru untuk melatih toleransi anak di sekolah,” ujarnya.
Jumeri berharap periode pandemi Covid-19 juga dimanfaatkan pihak sekolah dan pemerintah daerah untuk membenahi dan meninjau aturan-aturannya apabila yang tidak sesuai dengan SKB ini agar segera diluruskan, dicabut, dan segera kembalikan hak-hak anak untuk menjalankan agama.
“Kalau masyarakat tau ada aturan yang belum dicabut bisa ajukan aduan ke ULT [Unit Layanan Terpadu]. SKB ini bukan untuk mengebiri, melarang anak-anak berpakaian sesuai agamanya, justru memberi kebebasan beragama,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Tips Mudik Aman 2026, Gunakan Layanan 110 Jika Ada Gangguan
- Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Bappenas Ingatkan Risiko Serius
- Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Dinilai Ancam Demokrasi
- Terminal Jatijajar Prediksi Puncak Arus Mudik 18 Maret 2026
- Komisi III DPR Kecam Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS
Advertisement
Pemkot Jogja Resmi Larang Bus Pariwisata Parkir di TKP Senopati
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Laporan Media Inggris Sebut Mojtaba Khamenei Koma, Fakta Belum Terkuak
- Wisuda USD 2026 Luluskan 646 Mahasiswa Angkat Tema Berakar Mekar
- BBM Terancam Mahal, Prabowo Kaji Kebijakan WFH dan Pangkas Hari Kerja
- OPINI: Ramadan dan Tren Bio-Hacking
- Pemkot Jogja Siapkan Penataan Fasad Toko di Malioboro
- Daftar Camilan Tinggi Protein Sehat untuk Menahan Lapar Seharian
- Penukaran Uang Baru di Stasiun Jogja Diserbu Penumpang KA
Advertisement
Advertisement







