Pesawat SJ182 Dijadwalkan Terbang Pukul 13.25 tapi Baru Takeoff Pukul 14.14

Pesawat Sriwijaya Air menunggu persiapan penerbangan di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (11/12). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
10 Januari 2021 11:57 WIB Annisa Sulistyo Rini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pesawat Sriwijaya Air dengan penerbangan SJ182 mengalami keterlambatan terbang atau delay, sebelum jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021). Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Irwin Jauwena memberikan pernyataan terkait keterlambatan tersebut.

Pesawat dengan rute Jakarta-Pontianak tersebut hilang kontak 4 menit setelah lepas landas pada pukul 14.40 WIB dan diduga jatuh di sekitar dekat Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Pesawat tersebut semula dijadwalkan takeoff atau lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 13.25 WIB dan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pada 15.00 WIB.

Baca juga: Pihak Keluarga Penumpang Sriwijaya Disediakan Fasilitas Hotel

Namun, akhirnya baru takeoff pada pukul 14.14 WIB dan semestinya tiba di Pontianak pada 15.50 WIB.

Terkait keterlambatan pesawat, Jefferson mengatakan hal tersebut bukan karena kerusakan, tetapi alasan alasan cuaca yang tidak mendukung.

"Delay akibat hujan deras, makanya ada delay 30 menit saat boarding," ungkapnya saat konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (9/1/2021).

Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa pesawat tersebut layak terbang dan dinyatakan tidak mengalami kerusakan. Sebelum dikabarkan hilang kontak, pesawat ini sudah terbang ke Pontianak dan Pangkal Pinang.

Baca juga: Simak Kronologi Pesawat Sriwijaya SJ182 yang Hilang Kontak

Sriwijaya telah bekerja sama dengan Angkasa Pura II untuk menyediakan posko yang bertujuan memberikan pendampingan kepada pihak keluarga korban.

“Kami bekerja dengan koordinasi yang sangat erat dengan pihak terkait dalam pencarian pesawat SJ182 ini,” ungkap Jefferson.

Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menyebutkan pihaknya telah menyediakan posko di Bandara Soekarno-Hatta dan di Bandara Supadio.

"Di Bandara Soekarno-Hatta yang kami aktifkan ada dua titik, satu adalah emergency operation center, itu adalah pusat penanggulangan kondisi kedaruratan," kata Awal.

Kemudian, posko kedua ada di crisis center di Soetta. Posko ini merupakan koordinasi antar stakeholder dan titik pertemuan antara Sriwijaya Air dan keluarga korban.

Sementara itu, posko ketiga ada di Bandara Supadio, Pontianak, yang menjadi tujuan pesawat Sriwijaya SJ182. Adapun posko ini didirikan bersama dengan maskapai Sriwijaya Air. Posko crisis center di Bandara Soekarno-Hatta dan di Bandara Supadio akan beroperasi selama 24 jam.

Sumber : Bisnis.com