KPK Dalami Aliran Rp106,3 Miliar yang Diduga ke Nusron Wahid
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Butet Kartaredjasa. /Okezone-Dimas
Harianjogja.com, JAKARTA--Kerukunan antar-umat beragama di Indonesia menjadi kerinduan banyak orang di Tanah Air.
Kerinduan akan kerukunan antar-umat beragama di Indonesia membuat seniman Jogja Butet Kartaredjasa terbawa nostalgia puluhan tahun lalu tentang almarhum ayahnya, Bagong Kussudiardja. Ia teringat akan hubungan akrab antara sang seniman dan Mantan Menteri Agama (Menag) sekaligus tokoh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), Mukti Ali.
Cerita itu ia bagikan di Instagram, Minggu (29/11/2020), setelah Butet bertemu Rektor UIN Suka Al Makin.
"Kemarin kepada Prof Al Makin, rektor UIN Sunan Kalijaga, saya bocorkan cerita menarik bertalian soal kesejukan agama, terutama soal relasi seniman dengan agama. Yaitu, soal hubungan Pak Bagong dengan IAIN Sunan Kalijaga," tulisnya melalui akun terverifikasi @masbutet.
Kala itu, kata Butet, pada sekitar 1970-an, Bagong, yang sebelumnya membuat sendratari "Kelahiran dan Kebangkitan Isa Almasih", menggarap sendratari "Sunan Kalijaga".
Di tengah proses penggarapan, Bagong berkonsultasi dengan Mukti Ali, yang juga pernah menjabat sebagai wakil rektor IAIN Sunan Kalijaga [sekarang UIN Sunan Kalijaga]. Untuk keperluan karya seninya itu, Bagong pun belajar pengetahuan Islam.
"Seniman dan ulama itu kerap tukar pikiran, terutama membekali pengetahuan Islam bagi Pak Bagong yang Kristen," terang Butet.
Bahkan, seperti diceritakan Butet, sendratari garapan Bagong kental akan perpaduan antara agama dan seni yang apik, mulai dari karakter utama yang dibawakan penari Katolik hingga koreografi jemaah yang sedang salat.
"Dalam sendratari “Sunan Kalijaga” di mana karakter utama dimainkan penari Katholik, Yohanes Sumandiyahadi, - Pak Bagong antara lain menghadirkan koreografi orang2 sedang sholat diiringi lantunan vokal suara lelaki seperti suara adzan. Liriknya dalam bahasa Jawa, berisi sembah puji keagungan Tuhan. Yang menembangkan Pak Parman yang vokalnya bisa memekik sampai oktaf yang tinggi banget," terang Butet.
"Sungguh perpaduan musik dan koreografi spiritual yang bisa bikin merinding. Banyak motif2 koreografi yang diolah dari tradisi keagamaan, bersumber pada gerak2 rohaniah yang Islami," imbuhnya.
Kenangan itu, yang mengingatkan Butet akan indahnya keberagaman agama dan kerukunan pemeluknya, membuat ia merindukan kondisi Indonesia di masa lalu.
"Mengingat peristiwa itu, bolehlah kita bertanya, menggugat dan menyelidik: “Dimanakah keindahan Indonesia yang kayak gitu bersembunyi? Tolong kembalikan ke-Indonesia-an itu kepada kami!!!" tutup kakak mendiang Djaduk Ferianto ini.
Berbagai komentar warganet tak ayal membanjiri unggahan tersebut. Sama seperti Butet, publik juga merindukan kedamaian di tengah keberagaman di tanah air.
"Indonesia indah dan beragam, sebelum negara api menyerang..." tulis @ester_hastuti.
"Pertanyaan dan gugatan di kalimat penutupnya mewakili perasaan banyak orang... Suwun, Pak Ageng," komentar putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, melalui akun @tsuroiya.
"Membayangkan seandainya ku menonton acara tsb.. Sungguh spektakuler.." ungkap @riakoestiyono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Jadwal KA Bandara YIA Minggu 27 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Minggu 27 September 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jadwal dari Jogja dan Kutoarjo selengkapnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 27 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 27 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
DPRD Gunungkidul menegaskan Perubahan APBD 2026 harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar besarnya anggaran.