Merapi Siaga, Harga Ternak Sapi Anjlok

Kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Dam Sabo Kali Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, Minggu (12/4/2020). - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
12 November 2020 20:47 WIB Ponco Suseno News Share :

Harianjogja.com, KLATEN -- Harga jual sapi di kawasan rawan bencana (KRB) III di Klaten mulai turun. Kondisi ini disebabkan banyaknya warga di kawasan itu yang menjual hewan ternaknya menyusul naiknya status Gunung Merapi dari waspada ke siaga.

Koordinator Pengungsi Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten , Jainu, mengatakan total populasi sapi di beberapa dukuh di desanya yang tergolong KRB III mencapai 250 ekor. Beberapa dukuh yang masuk di KRB III di Balerante, di antaranya Samburejo, Ngipiksari, dan Gondang.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Kondisi Merapi Lampaui Erupsi 2006

"Hingga sekarang sudah ada yang mengungsikan hewan ternaknya. Ada juga yang mulai menjual karena enggak mau ribet saat mengungsikan hewan ternaknya. Harga jual ternak sapi sekarang mulai turun. Biasanya per ekor sampai Rp30 juta  sekarang menjadi Rp25 juta  untuk sapi jenis metal. Yang harga Rp10 juta-Rp15 juta per ekor juga sudah turun Rp1,5 juta per ekornya. Total sapi yang sudah dijual di sini berkisar lebih dari 20 ekor," kata Jainu saat ditemui Solopos.com, Rabu (11/11/2020).

Turunnya harga sapi disebabkan banyaknya pemilik sapi di lereng Gunung Merapi yang menjual hewan ternaknya secara bersamaan.

Hal senada dijelaskan Ketua Sukarelawan Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Purnomo. Sapi menjadi barang berharga bagi warga di lereng Gunung Merapi. Hal itu termasuk warga di Desa Tegalmulyo.

"Di sini [Tegalmulyo], setiap keluarga  itu pasti punya sapi. Bahkan, satu keluarga ada yang punya 4-5 ekor. Saat menjelang erupsi seperti ini, tren harga jual sapi mulai turun. Sekarang sudah ada penurunan sekitar lima persen. Khusus sapi lokal, harga jual secara normal senilai Rp17 juta per ekor," kata Purnomo.

Semakin Anjlok

Purnomo memprediksi harga sapi akan terus turun hingga terjadi erupsi Gunung Merapi. Biasanya harga sapi anjlok sampai 50%. "Sapi itu menjadi celengan bagi warga [di lereng Gunung Merapi]. Saat terjadi erupsi, biasanya tak ada pakan ternak [tak ada rumput karena terkena awan panas]. Yang jual di pasaran semakin banyak," katanya.

BACA JUGA : BPPTKG Beberkan Perkiraan Panjang Luncuran Awan Panas 

Warga Tegalmulyo, Juli, memiliki tiga ekor sapi. Karena itu pula ia belum mau mengungsi karena masih punya sapi yang harus ia jaga. "Ibu saya sudah di pengungsian sementara [tiap malam]. Saya sendiri masih di rumah karena saya harus memikirkan pakan ternak untuk hewan sapi saya," katanya.

Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Usaha Peternakan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Triyanto, mengatakan pendataan hewan ternak besar di lereng Gunung Merapi sudah dilakukan jauh hari. Ternak yang didata berupa sapi dan kambing.

"Sudah didata semuanya. Jika terjadi erupsi, ternak besar itu masuk skala prioritas untuk dievakuasi setelah warga," katanya.