Kota-Kota di Amerika Serikat Bersiap Hadapi Kerusuhan Seusai Pilpres

Warga menggelar unjuk rasa selama pemilihan Presiden 2020 di New York, AS, Selasa (3/11/2020). - Bloomberg/Jeenah Moon
05 November 2020 17:17 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kerusuhan yang diperkirakan akan berlangsung pada malam setelah pemilihan umum di Amerika Serikat ternyata tidak terjadi.

Meski demikian, polisi dan sektor bisnis di Amerika Serikat (AS) tetap bersiap siaga saat Donald Trump mengklaim kemenangan dan memicu potensi kerusuhan yang lebih besar.

Dilansir Bloomberg, Kamis (5/11/2020), pengunjuk rasa anti-Trump berkumpul Selasa lalu di kota-kota seperti Washington, Portland, dan Los Angeles, dan segera diikuti oleh penangakapan pihak berwajib. Alih-alih dipenuhi kerusuhan, kondisi sejumlah negara bagian justru tampak sepi seiring bisnis yang menutup gerai dan pasukan Garda Nasional yang disiagakan.

Kerusuhan justru baru terjadi kemarin malam, tepat setelah Trump melontarkan beberapa pernyataan yang mempertanyakan bagaimana surat suara dihitung dan menuding terdapat kecurangan.

Grup Facebook yang disebut "Stand Up Michigan to Unlock Michigan" kemarin mengeluarkan ajakan bertindak, meminta sukarelawan untuk pergi ke Pusat TCF Detroit, yang secara lokal dikenal sebagai Cobo Hall, untuk memastikan hasil suara Michigan yang dihitung di sana. Postingan tersebut memberi tahu 79.000 anggota grup bahwa ratusan penantang sayap kiri sudah berada di lokasi.

Banyak dari pengunjuk rasa mengatakan ingin menjadi pemantau, awalnya diblokir oleh polisi di pintu depan. Penonton memasuki pusat konvensi melalui pintu belakang yang tidak dijaga dan kembali meneriakkan: "Hentikan penghitungan!"

Kelompok sayap kiri "Protect The Results" merencanakan lebih dari 100 protes untuk mempertahankan integritas pemilu, di kota-kota seperti New York, Washington dan Los Angeles, baik secara virtual maupun secara langsung.

Ratusan pengunjuk rasa berkumpul pada Rabu malam di Central Park dan di luar Perpustakaan Umum New York di Manhattan. Mereka meneriakkan "Hitung setiap suara," sambil mengacungkan tanda mendukung Joe Biden.

"Saya tidak ingin berada di sini. Saya ingin menjalani hidup saya. Namun, ketika presiden mencoba merusak setiap suara, Anda harus keluar," kata Jonathan Walker, seorang tukang kayu berusia 59 tahun dari Hell’s Kitchen.

Michael Chertoff, yang memimpin Departemen Keamanan Dalam Negeri AS di bawah Presiden George W. Bush, mengatakan dalam sebuah wawancara Selasa sore bahwa, tantangan berikutnya akan berada pada setelah November.

"Periode ketiga, ketika ada perdebatan tentang penghitungan surat suara, di mana kita akan mendapatkan informasi yang salah tentang siapa yang menang," katanya.

Dalam pesan teks kepada para pendukungnya, tim kampanye Trump membuat permohonan penggalangan dana untuk membayar utang kampanye dan setengah lainnya untuk penghitungan ulang dan kontes pemilu pascapemilihan.

Di platform media sosial, kelompok sayap kanan berjanji untuk menghadapi demonstran sayap kiri, dalam beberapa kasus menyerukan kekerasan.

Sumber : Bloomberg