Hadapi Resesi dengan Menggunakan Produk IKM Lokal

Kepala BPPI Kemenperin Dody Rahadi. - ist.
06 Oktober 2020 22:47 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Perindustrian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) menyerukan pentingnya menggunakan produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) lokal untuk menghadapi kemungkinan adanya gelombang resesi. Melalui penggunan produk lokal harapannya bisa membuat perputaran ekonomi terus berjalan.

Kepala BPPI Kemenperin Dody Rahadi menjelaskan pandemi Covid-19 memang berdampak luas, tidak hanya sektor kesehatan namun juga ekonomi secara menyeluruh bahkan beberapa negara sudah mengalami resesi. IKM memiliki peran penting dalam menghadapi resesi, sehingga industri kecil ini harus mempersiapkan diri.

BACA JUGA : Dekranasda Sleman Dukung Percepatan Kebangkitan IKM 

“IKM harus menyiapkan diri menghadapi gelombang resesi yang mungkin akan terjadi. Semua harus menyiapkan diri, dengan cara antara lain merubah model bisnis, media pemasaran, lebih banyak memanfaatkan sumber daya lokal,” katanya dalam seminar secara virtual bertajuk Peran Teknologi 4.0 Dalam pengembangan Industri Batik dan Kerajinan, Selasa (6/10/2020).

Banyaknya sumber daya alam bisa dimanfaatkan untuk keperluan dalam negeri. Sebanyak 268 juta penduduk Indonesia merupakan pangsa pasar besar, sehingga bisa memanfaatkan SDA untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Berbagai bahan produksi IKM juga disarankan untuk menggunakan komponen lokal untuk mengurangi impor. Terpenting, masyarakat juga harus memiliki kesadaran untuk menggunakan produk lokal.

BACA JUGA : Hadapi Revolusi Industri, IKM Harus Siap Berinovasi

“Bangga buatan Indonesia dan beli buatan Indonesia adalah kunci mengatasi hal tersebut [resesi]. Pasar Indonesia jangan sampai dibanjiri produk impor, supaya roda industri terus bergerak. Kalau satu produk bergulir dibeli konsumen, mestinya produk tersebut akan bergulir menggerakkan produksi IKM,” katanya.

Dody mendorong IKM melakukan inovasi produk dengan berorientasi pada kebutuhan pada masa pandemi. Ia mencontohkan IKM batik bisa membuat masker batik yang dipadu dengan baju atau berbagai jenis kain tradisional lainnya. Ia mengingatkan peningkatan daya saing dan pemanfaatan teknologi 4.0 harus dilakukan untuk mendorong percepatan pemulihan ekonomi kerajinan dan batik.

“Selain itu IKM juga harus memperkuat asosiasi, jangan berdiri sendiri-sendiri harus bersatu, bersama-sama,” katanya.

BACA JUGA : Ubah Limbah Jadi Rupiah, IKM Kayu Disambangi Kustini Sri

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Titik Purwati Widowati menyatakan untuk mendukung IKM pihaknya sudah memberikan pelatihan dan pendampingan untuk menggunakan bahan lokal terutama pada industri batik. Selain itu pembuatan peralatan yang sesuai dengan industri 4.0 terus dilakukan melalui berbagai proses penelitian. Bimbingan kepada pelaku IKM tetapi dilakukan melalui sistem online karena pandemi.

“Kami melakukan inovasi di bidang teknologi untuk kerajinan dan batik, seperti  pengembangan alat pendeteksi keaslian batik batik analyzer, otomasi peralatan membatik juga upaya pembuatan functional batik yang telah dikembangkan sejak 2019,” katanya.