Pemerintah Akan Lakukan Investigasi Terkait Virus Corona D614G Menular 10 Kali Lebih Cepat

Ilustrasi Virus Corona (Covid/19)
02 September 2020 12:27 WIB Novita Sari Simamora News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia tengah melakukan investigasi terkait mutasi virus corona (Covid-19) D614G yang  bisa menular hingga 10 kali lebih cepat. Para peneliti di Indonesia menemukan strain mutasi virus corona yang dianggap lebih menular, D614G. Jenis ini juga ditemukan di beberapa negara Asia seperti Filipina dan Malaysia.

Namun, penelitian masih dilakukan dan belum tentu mutasi virus ini membuatnya jadi lebih berbahaya dari segi tingkat penularan dan keparahan penyakit. Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan pihaknya masih perlu melakukan studi yang lebih lanjut terkait mutasi virus corona D614G, yang lebih mudah menular 10 kali lipat.

BACA JUGA : Selain Jogja, Virus Corona Ditemukan Telah Bermutasi

"Perlu kami pastikan bahwa proses penelitian dan investigasi tentang virus ini tentunya dilakukan lembaga penelitian dan Kementerian Kesehatan," kata Wiku, Selasa (1/9/2020).

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan bahwa virus corona yang bermutasi itu pertama kali ditemukan itu di Filipina. Saat itu, jumlah kasus Covid-19 di Filipina melampaui jumlah kasus di Indonesia.

Tri Yunis mengatakan bahwa virus corona D614G juga ditemukan di Malaysia dan Indonesia. Namun, peneliti Indonesia belum bisa memastikan fenotipe dan genotipe, secara genetik.

Mutasi itu virus corona itu tidak hanya ditemukan di Asean. Para ahli menyebut bahwa mutasi virus corona D614G juga ditemukan di Eropa dan Amerika Utara.

BACA JUGA : Tim UGM Temukan Virus Corona Telah Bermutasi di Jogja 

Paul Tambyah, konsultan senior di National University of Singapore dan presiden terpilih dari International Society of Infectious Diseases, mengatakan virus corona D614G ini menular lebih cepat, tetapi dengan tingkat kematian yang lebih rendah.

"Mungkin itu hal yang baik untuk memiliki virus yang lebih menular tetapi tidak terlalu mematikan," ujarnya dilansir dari Times of India.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia