Ilmuwan Prediksi Gelombang Kedua Covid-19 di Eropa Lebih Lunak

Seorang pejalan kaki melintas di pedestrian kawasan bisnis di Madrid, Spanyol. Dari deretan negara kawasan Eropa yang mengalami resesi, Spanyol mencatat penurunan ekonomi paling dalam di kuartal II/2020, yaitu minus 18,5 persen. - Bloomberg
22 Agustus 2020 16:57 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Infeksi virus corona (Covid-19) kembali melonjak di Eropa. Namun, dari berbagai data yang dihimpun, infeksi virus kian hari semakin melunak dan tidak mematikan.

Dilansir dari Bloomberg, para ilmuwan menyimpulkan peningkatan jumlah tes membantu membendung infeksi lebih awal dan berbeda dengan lonjakan pada Maret 2020 dan April 2020 lalu.  menurut para ilmuwan, pihak berwenang melakukan pekerjaan yang lebih baik untuk melindungi orang tua dan orang rentan lainnya.

Prancis dan Spanyol sama-sama mencatat jumlah kasus baru tertinggi sejak April 2020 dalam seminggu terakhir. Sementara itu, Italia melaporkan peningkatan terbesar sejak Mei 2020 dan kasus di Jerman naik dua kali lipat dalam beberapa pekan terakhir.

BACA JUGA : Corona di DIY Melejit, Pertanda Gelombang Dua Covid-19 

Namun saat penularan menyebar lagi ke seluruh benua, kematian meningkat secara tidak dramatis, setidaknya untuk saat ini.

"Peningkatan akses ke pengujian kemungkinan menjadi alasan utama, terutama karena orang menjadi lebih sadar akan gejalanya," kata John Ford, dosen kesehatan masyarakat di Universitas Cambridge, dilansir Bloomberg, Sabtu (22/8/2020).

Banyak infeksi berasal dari kalangan muda yang bepergian dan berpesta selama liburan musim panas dan beberapa dari kasus tersebut tidak menunjukkan gejala. Perawatan dan prosedur yang lebih baik untuk mengidentifikasi kematian terkait Covid juga membantu menurunkan angka kematian.

Dengan negara-negara Eropa secara bertahap membuka kembali ekonomi, termasuk perjalanan pada pertengahan Juni, para pejabat bersiap untuk lonjakan karena lebih banyak orang melakukan kontak lagi.

Namun setelah ekonomi terpukul karena lockdown, pemerintah cenderung enggan menghidupkan kembali pembatasan ketat pada aktivitas.

Kanselir Jerman Angela Merkel, yang mendapat pujian atas penanganannya terhadap fase awal pandemi, menyarankan rekan-rekannya untuk menghindari penguncian baru dan mengkoordinasikan tindakan.

BACA JUGA : UGM Sebut Tak Ada Pola Gelombang Kedua Covid-19 di

Dia menyebut, negara-negar Eropa sebaiknya fokus pada langkah-langkah yang ditargetkan seperti meningkatkan penggunaan masker wajah, membatasi operasi bar dan restoran, serta mewajibkan pelancong yang kembali dari daerah yang terkena dampak paling parah untuk dikarantina atau membuktikan bahwa mereka tidak terinfeksi.

Uji coba obat yang cepat dapat sebagian bertanggung jawab atas jumlah kematian yang masih terkendali, dengan terapi seperti deksametason anti-inflamasi berbiaya rendah yang ditemukan untuk mengurangi kematian pasien Covid-19 yang sakit parah.

Sejumlah negara juga telah mengubah cara penghitungan kematian dalam beberapa pekan terakhir. Korban di Inggris turun lebih dari 5.000 awal bulan ini setelah pemerintah mengatakan kematian yang digolongkan terkait Covid jika orang tersebut meninggal dalam 28 hari setelah dites positif.

Karena infeksi di sebagian besar negara Eropa mulai meningkat hanya beberapa hari atau beberapa minggu yang lalu, kematian juga dapat meningkat lagi.

"Selalu ada penundaan yang signifikan antara lonjakan kasus dan lonjakan kematian, yang terjadi dalam beberapa minggu," kata Graham Cooke, profesor penyakit menular di Imperial College London.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia