Mahathir Dirikan Partai Pejuang, Fokus Perangi Korupsi

Mahathir Mohamad. - Bloomberg/Samsul Said
13 Agustus 2020 11:27 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mendirikan partai politik yang akhirnya diberinya nama Partai Pejuang.

Mahathir mengatakan partai itu dibentuk dari kesadaran dan kebutuhan untuk memerangi korupsi yang menghancurkan bangsa. Dia mengajak warga negara Malaysia untuk memerangi korupsi bersama partainya.

Baca juga: Facebook & Instagram Kampanye Digital Gandeng Komikus Indonesia

“Jika Anda menginginkan posisi dan uang, pilih pihak lain. Jika Anda ingin menebus martabat Anda dan mempertahankan hak kita maka pilih partai kami. Pilih Pejuang, ”katanya dalam pernyataan yang diposting di halaman Facebook dan Twitter seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (13/8).

Minggu lalu Mahathir, 95, mengumumkan pembentukan partai politik baru, tetapi tidak mengungkapkan nama partainya.

Partai baru, yang akan dipimpin oleh putranya Mukhriz Mahathir sebagai presiden dan dirinya sendiri sebagai ketuanya, tidak sejalan dengan Pakatan Harapan (PH) atau Perikatan Nasional (PN).

Mahathir pada Mei 2018 memimpin koalisi PH meraih kemenangan bersejarah dalam pemilihan umum hingga kemudian menjadi perdana menteri Malaysia.

Selama konferensi pers yang mengumumkan pembentukan partai minggu lalu, Mahathir mengatakan bahwa partainya yang baru berbasis etnis Melayu dan akan fokus pada pemberantasan korupsi dan memastikan Malaysia "sekali lagi menjadi macan Asia.

Baca juga: Besok Sidang Tahunan, GKR Hemas Jalani Tes Swab. Hasilnya?

Pemerintah Pakatan Harapan bubar pada Februari lalu, kurang dari setengah masa pemerintahan, setelah mencuat upaya perebutan pengaruh.

Mahathir pun lantas mengundurkan diri sebagai perdana menteri. Selama berhari-hari, partai-partai politik dan anggota parlemen mengubah aliansi, mereka terpecah antara kubu yang mendukung Mahathir atau Anwar.

Akhirnya, Muhyiddin, yang semula berada di kubu Mahathir, menjadi penantang ketika partai-partai dari pemerintahan sebelumnya setuju untuk mendukungnya. Mahathir menolak beberapa dukungan oposisi karena dia mengatakan itu berarti bekerja dengan individu-individu yang "korup".

Sumber : Bisnis.com