Bangunan Hotel Tertinggi di Ibukota Korea Utara Ini Tak Pernah Terima Tamu

Hotel of Doom
07 Agustus 2020 15:27 WIB Yudi Supriyanto News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Hampir setiap negara memiliki bangunan dengan berbagai bentuk yang menjadi ikon negara tersebut. Tidak terkecuali dengan Korea Utara. Negara itu juga memiliki gedung yang sangat terkenal dan merupakan yang tertinggi di Korea Utara, yakni Hotel Ryugyong Utara Korea Utara atau kerap disebut Hotel of Doom.

Dilansir dari Insider, Guinness World Records mencatat gedung itu memiliki tinggi 1.080 kaki. Gedung itu merupakan bangunan yang tidak berpenghuni. Hotel of Doom dengan 105 lantai tidak pernah menerima 1 orang pun tamu. Namun, tetap menjadi subjek daya tarik internasional.

Inilah kisah di balik gedung pencakar langit yang ditinggalkan, yang mendominasi kaki langit ibukota.

1. Pembangunan Hotel Ryugyong dimulai di Pyongyang pada 1987, tetapi terhenti karena masalah ekonomi di Korea Utara.

Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, maka Korea Utara kehilangan mitra dagang utama dan sumber bantuan, yang memicu krisis ekonomi di negara tersebut.

2. Hotel ini dibangun mencapai puncaknya pada 1992, tetapi bagian dalamnya tidak pernah selesai.

Ryugyong Hotel memiliki 105 lantai dan kadang-kadang disebut sebagai Gedung 105.

3. Sampai hari ini, belum pernah ada tamu.

Meskipun menolak pengunjung asing, Korea Utara memang memiliki beberapa hotel fungsional di Pyongyang. 

Hingga Ryugyong Hotel selesai dibangun, Yanggakdo International Hotel adalah yang terbesar, dan Ryanggang Hotel secara luas dianggap sebagai yang paling mewah.

4. Bentuk piramidanya mendominasi cakrawala Pyongyang dari beberapa mil jauhnya.

Atlas Obscura mencatat masing-masing dari 3 bagian bangunan, yang bergabung bersama di atas, memiliki panjang 328 kaki (100 meter).

5. Di bagian paling atas gedung, bagian berbentuk kerucut delapan lantai seharusnya menampilkan restoran berputar.

Sampai sekarang bagian itu, bahkan hotel, tetap saja kosong.

6. Pekerjaan eksternal lainnya dimulai di hotel pada 2008 dengan pemasangan panel kaca di seluruh permukaannya.

Kontraktor Mesir, grup Orascom, mengambil alih proyek tersebut dan menghidupkan kembali konstruksi pada tahun 2008.

7. Pembangunannya akan menghabiskan biaya sekitar US$2 miliar.

CIA's World Factbook mencatat produk domestik bruto (PDB) Korea Utara adalah sekitar US$40 miliar. Jadi, biaya untuk menyelesaikan bangunan itu diperkirakan mencapai 5% dari PDB.

8. Korea Utara memanfaatkan bangunan itu untuk kegiatannya, tentunya bukan sebagai hotel yang menampung tamu.

Pyongyang merayakan May Day pada 2009 dengan layar kembang api yang membingkai Hotel Ryugyong.

9. Berfungsi sebagai latar belakang untuk pertunjukan rombongan seni.

Pertunjukan rombongan biasanya berisi pesan-pesan propaganda. Korea Utara mengirim rombongan seni ke Olimpiade Musim Dingin 2018 di Korea Selatan . 

10. Bangunan ini juga digunakan sebagai latar belakang untuk pesan propaganda yang terdiri dari lebih dari 100.000 layar LED.

Pada 2018, desainer pencahayaan Kim Yong Il menciptakan pertunjukan cahaya yang terdiri dari slogan-slogan politik dan simbol partai. Slogan-slogan itu diputar di permukaan gedung selama beberapa jam setiap malam.

Bangunannya sendiri masih belum teraliri listrik, dan belum ada tanggal penyelesaian yang diharapkan, namun sudah ada tanda-tanda kemajuan konstruksi baru.

Alek Sigley, seorang mahasiswa Australia yang sedang belajar untuk gelar master dalam sastra Korea di Universitas Kim Il Sung, men-tweet tentang papan nama baru di atas pintu masuk utama hotel pada Juni 2019.

Pada Juli, Sigley ditahan selama seminggu dan kemudian dibebaskan setelah itu. Otoritas Korea Utara menuduhnya melakukan "tindakan mata-mata" terhadap negara.

Kondisi itu terus memenuhi julukannya, "Hotel of Doom."

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia