Advertisement

Tersulut Sentimen Trump, Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi

Hafiyyan
Kamis, 16 Juli 2020 - 09:27 WIB
Sunartono
Tersulut Sentimen Trump, Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Kilang Minyak - Bloomberg

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Harga minyak melonjak ke level tertinggi 4 bulan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan tidak ingin menambah lebih banyak sanksi terhadap China.

Dikutip dari Bloomberg, langkah tersebut meredam ketegangan AS-China, sebagai dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2020), harga minyak WTI kontrak Agustus 2020 naik 91 sen menjadi US$41,20 per barel, sedangkan minyak Brent kontrak September meningkat 89 sen menuju US$43,79 per barel.

Sementara itu, kemarin koalisi OPEC+ yang beranggotakan 23 negara, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia, akan mengurangi pemangkasan produksi menjadi 7,7 juta barel per hari (bph) pada Agustus dari 9,6 juta bph saat ini.

Hal itu disampaikan Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman dan rekannya Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

Namun, anggota koalisi yang tidak memenuhi komitmen mereka untuk memangkas produksi pada Mei dan Juni - seperti Irak dan Nigeria - akan menebusnya dengan pengurangan tambahan pada Agustus dan September.

"Minyak berhasil kembali naik untuk jangka pendek. Tidak ada konflik AS-China menjadi kabar baik bagi pasar minyak," ujar Head of over-the-counter energy trading LPS Futures Michael Hiley.

Minyak mentah telah diperdagangkan dalam kisaran ketat sekitar US$ 40 per barel pada Juli karena pasokan yang lebih rendah dan pemulihan permintaan. Namun, pasar masih diliputi kegelisahan atas pandemi yang masih berkecamuk di banyak bagian dunia. Ada indikasi yang tidak merata dari pemulihan pasar.

Advertisement

Dari AS Penarikan besar dari stok dalam laporan Administrasi Informasi Energi sebagian besar disebabkan oleh penurunan impor, menandakan berakhirnya kelebihan pengiriman dari Arab Saudi.

Pada saat yang sama, permintaan bensin AS meningkat untuk minggu ke-11 berturut-turut ke level tertinggi sejak akhir Maret.

"Impor yang lebih rendah adalah alasan utama untuk undian ini, dan jumlah impor adalah angka yang baik untuk apa yang akan kita lihat untuk beberapa bulan ke depan. Dua  juta barel per hari yang mungkin ditambahkan OPEC pada Agustus tidak akan tercapai hingga September atau Oktober," kata manajer portofolio di Tortoise Brian Kessens.

Advertisement

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Tujuh Fraksi Sepakati Draf APBD Gunungkidul 2023

Gunungkidul
| Selasa, 29 November 2022, 05:07 WIB

Advertisement

alt

Sajian Musik Etnik Dihadirkan Demi Hidupkan Wisata Budaya Kotagede

Wisata
| Senin, 28 November 2022, 08:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement