Survei: Karyawan Ingin WFH Berlanjut Meski Pandemi Usai

Masyarakat di Sumatra Bagian Selatan memanfaatkan perangkat dan teknologi komunikasi untuk bekerja dari rumah. - Bisnis/Dinda Wulandari
01 Mei 2020 01:27 WIB Akbar Evandio News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Hasil penelitian Lenovo menunjukkan sebagian besar karyawan mengharapkan perusahaan menerima kebijakan bekerja dari rumah (WFH) setelah pandemi Covid-19 berlalu.

General Manager Hong Kong dan Makau Lenovo, Ronald Wong mengatakan bahwa dalam dunia bisnis, karyawan mulai beradaptasi dengan sistem bekerja dari rumah yang dibantu oleh teknologi cerdas sehingga menjaga karyawan tetap terhubung dan bisnis tetap berjalan.

“Survei kami menunjukkan bahwa pengalaman karyawan sudah berubah dari sebelum pandemi ini," katanya lewat rilis resminya, Kamis, (30/4/2020).

Dalam 15 tahun terakhir, menurutnya, jumlah pekerja yang bekerja secara rutin dari rumah telah tumbuh 159 persen di Amerika Serikat dan hal yang sama juga terjadi di berbagai negara di Asia, termasuk di Indonesia.

Selain itu, menurut survei yang dilakukan oleh Jakpat pada 18—21 Maret 2020, sebanyak 33 persen karyawan di Jabodetabek sudah memulai bekerja dari rumah bahkan sebelum adanya ketentuan resmi dari pemerintah.

“Meskipun situasi saat ini berbeda, kami melihat keinginan para pekerja untuk beradaptasi dan mengadopsi pengaturan kerja yang fleksibel. Ini menegaskan bahwa langkah tepat dalam investasi teknologi perusahaan, karena sekarang kebanyakan orang merasa produktif di rumah dan percaya bahwa tenaga kerja akan bergerak lebih ke arah ini setelah krisis berlalu,” tuturnya.

Dia mengungkapkan bahwa studi Lenovo melihat sikap karyawan terhadap WFH di China, Jepang, Jerman, Italia, dan Amerika, menemukan bahwa sebagian besar karyawan (87 persen) merasa siap untuk beralih ke WFH bila diperlukan.

Sebagian besar sudah didorong (46 persen) atau diminta (26 persen) untuk WFH sebagai bagian dari langkah-langkah mitigasi Covid-19.

Selain itu, Ronald mengatakan bahwa 77 persen berharap bahwa perusahaan akan mendorong atau setidaknya lebih terbuka untuk memperbolehkan karyawan bekerja secara remote di masa mendatang.

“Terlebih ke depannya pada tahun 2025, diprediksi 75 persen pekerja akan terdiri dari generasi Milenial yang mempertimbangkan ketersediaan teknologi cerdas pada perusahaan dalam memilih pekerjaan,” jelasnya.

Menurutnya, Kebutuhan mencari talenta juga telah membuat organisasi memikirkan kembali ruang kerja, teknologi, dan budaya mereka untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik.

Sebuah studi global Harvard Business School 2018 terhadap 6.500 pemimpin bisnis menemukan bahwa lebih dari 60 persen memperkirakan bahwa ekspektasi karyawan untuk kerja fleksibel akan secara signifikan memengaruhi masa depan cara bekerja.

Sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia baru-baru ini mengungkapkan bahwa sebagian besar pengusaha masih merekrut karyawan, meskipun sudah mengantisipasi dampak dari pandemi Covid–19 ini.

Pada akhir Februari 2020, 44 persen responden mengatakan bahwa mereka telah menawarkan sistem kerja remote sebagai salah satu keuntungan bagi semua atau sebagian karyawan dan divisi tertentu.

“Pada saat semua perusahaan harus melalui masa penuh ketidakpastian dan harus terus menjalankan bisnis mereka, teknologi membuat mereka terus bergerak maju. Perusahaan perlu menyesuaikan dan memastikan karyawan mereka memiliki perlengkapan video, teknologi dan pelatihan yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan saat ini dan di masa mendatang di mana pekerjaan secara fleksibel akan menjadi normal,” tambah Wong.

Dengan adanya pola kerja baru ini, investasi perangkat teknologi cerdas akan semakin dibutuhkan perusahaan guna mendukung WFH. Pemerintah juga telah melakukan pengembangan teknologi yang pesat di era digital salah satunya dengan Peraturan Presiden (Perpres) No 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), yang didalamnya termasuk mengadaptasi sistem kerja WFH dengan memanfaatkan kanal-kanal digital.

“Sementara penelitian kami menemukan 61 persen karyawan merasa mereka menjadi produktif atau bahkan lebih ketika bekerja dari rumah vs bekerja di tempat lain, alasan utama karyawan memilih untuk tidak melakukannya dalam kondisi normal, atau bahkan merasa kurang produktif bekerja di rumah, adalah gangguan,” jelasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia