Ilmuwan China: Covid-19 Tak Akan Hilang, hanya Bisa Dikendalikan

Petugas medis melakukan tes cepat (Rapid Test) COVID-19 kepada pengemudi angkutan umum di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
29 April 2020 12:47 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Virus corona baru SARS-CoV-2 atau Covid-19 tidak akan bisa diberantas habis sesuai konsensus yang berkembang bahwa patogen kemungkinan akan kembali dalam gelombang baru seperti flu. 

Para ilmuwan China beralasan virus tersebut menginfeksi beberapa orang tanpa menyebabkan gejala yang jelas seperti demam.

Kelompok yang disebut pembawa asimptomatik ini akan mudah menyebarkan virus tanpa terdeteksi, menurut sekelompok peneliti virus dan medis China seperti dikutip Bloomberg.com dilansir dari Bisnis.com, Rabu (29/4/2020).

Kalau SARS, mereka yang terinfeksi menjadi sakit parah. Begitu mereka dikarantina dari yang lain, virus itu berhenti menyebar.

Sebaliknya, China masih menemukan belasan kasus virus corona yang tidak bergejala setiap hari meskipun sukses mengendalikan epidemi.

"Ini sangat mungkin menjadi epidemi yang hidup berdampingan dengan manusia untuk waktu yang lama, menjadi musiman dan berkelanjutan dalam tubuh manusia," kata Jin Qi, Direktur Institute of Pathogen Biology di lembaga penelitian Kedokteran China.

Sebuah konsensus sedang terbentuk di antara para peneliti dan pemerintah terkemuka di seluruh dunia bahwa virus itu tidak mungkin dihilangkan, meskipun banyak penguncian yang menyebabkan banyak ekonomi global terhenti.

Beberapa pakar kesehatan masyarakat menyerukan agar virus tersebut diizinkan untuk menyebar secara terkendali melalui populasi yang lebih muda seperti India, sementara negara-negara seperti Swedia telah memilih keluar dari penguncian ketat.

Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, mengatakan bulan lalu bahwa Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus bisa menjadi penyakit musiman.

Dia mengutip sebagai bukti kasus sekarang muncul di negara-negara di belahan bumi selatan saat memasuki musim dingin mereka.

Lebih dari tiga juta orang telah jatuh sakit dan lebih dari 210.000 tewas dalam pandemi global Covid-19 sebagaimana dilaporkan Worldometers.info.

Sementara itu, Presiden AS,Donald Trump menyatakan bahwa penyebaran virus akan melambat ketika suhu di negara-negara belahan bumi utara meningkat pada musim panas. Akan tetapi, para pakar China mengatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti untuk itu.

Sumber : Bisnis.com