Masa Depan Ekonomi Indonesia Setelah Corona Versi IMF

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan pemaparan dalam seminar Indonesia Economic & Investment Outlook 2020 di Jakarta, Senin (17/2/2020). - JIBI/Bisnis.com/Himawan L Nugraha
16 April 2020 22:47 WIB Hadijah Alaydrus News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dana Moneter Internasional alias Internasional Monetary Fund (IMF) merilis proyeksi ekonomi global (World Economic Outlook) chapter 1 seri April 2020 pada Selasa (15/4/2020).

Satu frasa yang mengemuka dalam laporan ini adalah The Great Lockdown. Frasa ini dijadikan judul simpulan soal WEO di laman situs resmi IMF. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksikan penyebaran virus Corona atau Covid-19 akan menjadi peristiwa resesi terparah sejak The Great Depression era 1930-an. Hampir 1 abad silam.

IMF tidak menakut-nakuti. Data menunjukkan penduduk dunia yang terinfeksi mencapai lebih dari dua juta jiwa dan korban meninggal sebanyak 134.632 pada minggu ini (15/4/2020). 

Hampir seluruh sektor ekonomi di dunia lumpuh total. Maskapai hingga industri manufaktur mengurangi operasional. Bahkan sebagian besar berhenti beroperasi. Negara-negara memberlakukan lockdown. 

Tidak terkecuali negara maju seperti AS, Singapura dan Jerman,  masyarakatnya mengurung diri di rumah.

Indonesia mencatat pasien virus Corona sebanyak 5.136 pasien dan 469 jiwa meninggal per Kamis (15/4/2020).

Jelas ini bukan kabar baik dan 'ramalan' IMF Organisasi internasional itu juga memperingatkan bahwa kontraksi dan pemulihan ekonomi dunia akan mengarah ke skenario terburuk dari yang diperkirakan jika virus Corona bertahan lama atau kembali mencuat.

IMF memperkirakan bahwa produk domestik bruto global akan menyusut 3 persen tahun ini.

Prediksi tersebut berbanding terbalik dengan proyeksi ekspansi sebesar 3 persen yang disampaikan pada Januari 2020.

Ekonomi global kemungkinan besar mengarah pada kemerosotan terbesar dalam hampir satu abad terakhir.

"Untuk pertama kalinya sejak The Great Depression baik negara maju dan negara berkembang berada dalam resesi," ungkap Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath (14/4/2020).

Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath. Bloomberg.

Dia menilai krisis ini berbeda dari yang sebelumnya. Seperti dalam perang atau krisis politik, ada ketidakpastian yang berlanjut tentang durasi dan intensitas guncangan.

Prediksi ini juga jauh lebih tinggi dari kontraksi ekonomi global sebesar 0,1 persen pada krisis keuangan 2009.

Negara maju, seperti AS dan Jepang, diperkirakan terpuruk ekonominya hingga masing-masing -5.9 persen dan -5,2 persen. 

Salah satu yang terparah, Italia, ekonominya diproyeksikan akan terjerembab hingga -9,1 persen. Menyusul Italia, teman satu benua, Spanyol yang mungkin mengalami penurunan ekonomi hingga -8 persen. 

Ekonomi China, asal muasal virus Covid-19, tidak sampai minus. Menurut perkiraan IMF, ekonomi Negeri Tirai Bambu ini hanya akan tumbuh 1,2 persen. 

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia diprediksi hanya tumbuh 0,5 persen. Sementara itu, negara Asia lainnya, seperti India diperkirakan masih tumbuh 1,9 persen. 

Namun, Thailand akan mengalami kontraksi besar hingga -6,7 persen.

Regional Kawasan Berkembang di Asia diproyeksikan menjadi satu-satunya wilayah dengan tingkat pertumbuhan positif pada tahun 2020 sebesar 1,0 persen, 5 persentase poin di bawah rata-rata pertumbuhan pada dekade sebelumnya.

Tabel proyeksi ekonomi Asia Pasifik oleh IMF.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2020 pada kisaran 2,3 persen. Angka ini masuk ke dalam skenario berat ekonomi Indonesia. 

Sementara itu, skenario terberat yang mungkin terjadi terhadap ekonomi Tanah Air adalah pertumbuhan -0,4 persen.

Namun, Sri Mulyani mengkhawatirkan efek sampingnya. 

Dia memperkirakan ada kenaikan jumlah warga miskin di Indonesia pada tahun ini yang jumlahnya bisa mencapai 1,1 juta orang untuk skenario berat dan 3,78 juta orang pada skenario sangat berat.

Oleh karena itu, pemerintah akan mati-matian mendorong jaminan sosial dan bantuan sosial bagi masyarakat. 


Rebound Terkuat

'Ramalan IMF' tidak sepenuhnya mengerikan. Lembaga dunia ini memperkirakan pertumbuhan global diperkirakan akan pulih ke 5,8 persen pada 2021, mencerminkan normalisasi kegiatan ekonomi dari tingkat yang sangat rendah. 

Tahun depan, kelompok ekonomi maju diperkirakan tumbuh 4,5 persen, sementara pertumbuhan untuk pasar negara berkembang dan kelompok ekonomi berkembang diperkirakan 6,6 persen.

"Dengan asumsi pandemi memudar pada paruh kedua tahun 2020 dan bahwa tindakan kebijakan yang diambil di seluruh dunia efektif dalam mencegah kebangkrutan perusahaan yang meluas, PHK, dan tekanan finansial yang meluas pada sistem," ungkap Gopinath

Ini akan menjadi rebound terkuat sejak 1980. 

Namun, IMF mengingatkan masih ada risiko yang dapat memicu pertumbuhan tertekan berkepanjangan.

"Kondisinya sangat bergantung pada berapa lama pandemi berlangsung, pengaruhnya terhadap aktivitas serta tekanan di pasar keuangan dan komoditas," kata organisasi yang bermarkas di Washington ini.

Jika ramalan IMF terbukti akurat, output di pasar negara maju dan berkembang akan lebih rendah dari tren pravirus sampai tahun 2021.

IMF menggambarkan tiga skenario alternatif yakni jika pandemi virus Corona berlangsung lebih lama dan virus kembali muncul pada 2021, atau keduanya.

Pandemi yang lebih panjang akan menggerus PDB sebesar 3 persen tahun ini sesuai pernyataan di awal. 

Namun, jika virus kembali muncul atau berlangsung hingga tahun depan proyeksi output 2021 akan berkurang hingga 8 persen.

Terhadap Indonesia, IMF juga memberikan perkiraan rebound yang tinggi jika pandemi ini berlalu tahun ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melesat hingga 8,2 persen pada 2021 dengan perkiraan defisit transaksi berjalan hanya 2,7 persen.

Perkiraan rebound dari hingga 8,2 persen ini jauh dari perkiraan pemerintah.

Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 berada pada kisaran 4,5-5,5 persen. 

"Outlook 2021, pertumbuhan ekonomi diperkirakan di range 4,5-5,5 persen dan inflasi 2-4 persen," ujar Sri Mulyani, Selasa (16/4/2020). 

Dia memastikan angka-angka proyeksi tersebut akan masuk ke dalam kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal 2021 yang bakal disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Namun, melihat 'ramalan' Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) - puncak pandemi jatuh pada akhir Juni atau awal Juli 2020 dengan jumlah pasien hingga 100.000 orang - rasanya pertumbuhan ekonomi tidak sampai minus saja sudah cukup. 

Pasalnya, tujuan mulia saat ini adalah kesembuhan total bagi masyarakat yang terkena pandemi dan zero kasus dikemudian hari. 

Di dalam krisis The Great Lockdown ini, tidak ada satu pihak pun yang harus larut dalam proyeksi-proyeksi. Bahkan, panik melihat angka-angka pun tidak akan mengurangi sakit yang mendera. 

Semua pihak harus bangkit, bahu membahu dan berupaya menjaga diri dan lingkungan dengan berdiam di rumah serta mematuhi aturan social distancing.

Teringat akan ujaran lawas Professor Universitas Warwick Robert Skidelsky.

"Jika hanya ada satu orang yang mendapat informasi sempurna, tidak akan pernah ada krisis umum. Tetapi satu-satunya orang yang mendapat informasi sempurna adalah Tuhan, dan dia tidak main di pasar saham."

Memang hanya Tuhan yang tahu kapan badai Covid-19 ini berlalu. Tapi manusia masih bisa berusaha menyudahinya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia