Erupsi Merapi Sebabkan Hujan Abu, Warga Jateng Diimbau Pakai Masker

Sejumlah awak media mendengarkan penjelasan mengenai satu pasien rujukan di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, Rabu (29/01/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
03 Maret 2020 11:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, SEMARANG - Gunung Merapi mengalami erupsi pada Selasa (3/3/2020) pukul 5.22 WIB dan dampaknya terasa sampai Solo Raya. Sejumlah wilayah di Kabupaten Boyolali, Klaten, hingga Sukoharjo, yang berada di timur Gunung Merapi, mengalami hujan abu.

Sejumlah keluhan warganet pun mewarnai lini masa Twitter. Mereka yang mengaku tinggal di utara dan timur DIY mengungkapkan bahwa di wilayahnya terjadi hujan abu.

"Solo bagian barat mulai hujan abu. Stay safe semuanya," cuit @rizkyanannda.

Melalui twit itu, @rizkyanannda membagikan pula foto kondisi jalan raya yang tertutup sekumpulan abu dan pasir.

Tak hanya itu, cuitan akun @Ramidi68702576 juga menyebutkan, "Se-Solo Raya hujan abu. Boyolali, Klaten, Solo, Yogyakarta. Semoga baik-baik #merapi #030320."

Dirinya menyertakan juga abu yang cukup tebal di permukaan sebuah bidang datar, yang digoresi angka 030320, melambangkan tanggal, bulan dan tahun erupsi Merapi kali ini.

Mengetahui kondisi tersebut, Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) pun mengimbau masyarakat untuk senantiasa mengenakan masker ketika bepergian keluar rumah.

"Hujan abu Merapi dilaporkan terjadi di Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo. Jalan Yogya-Solo wilayah timur juga terdampak hingga jarak pandang terbatas. Selalu waspada dan hati-hati ya.. Jangan lupa kenakan masker saat bepergian… Tetap semangat," kicau akun resmi @humasjateng.

SuaraJogja.id menyadur Solopos.com, sebagian wilayah di Sukoharjo yang terdampak hujan abu erupsi Merapi antara lain Pucangan dan Ngadirejo, Kartasura serta Trangsan, Gatak.

Salah satu warga Perum Parama Santosa, Pucangan, Kecamatan Kartasura, Eka Hari Wibawa (Bowo), mengaku merasakan adanya hujan abu. Abu vulkanik terlihat tipis turun dari langit-langit sekitar pukul 07.30 WIB.

"Abunya terlihat tipis. Tadi pagi sudah memenuhi kaca mobil. Kebetulan [mobil] ada di luar," kata Bowo.

Sementara itu, dilansir ANTARA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menyebutkan, erupsi Merapi Selasa pagi ini tidak menimbulkan hujan abu di wilayah Sleman.

"Hasil pantauan TRC BPBD Sleman di wilayah Kabupaten Sleman nihil terjadi hujan abu," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, Selasa.

Kendati demikian, BPBD Sleman sudah melakukan droping 1.000 pcs masker untuk kesiapsiagaan warga Dusun Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen, Di Desa Glagaharjo, Cangkringan.

"Saat ini warga masyarakat di lereng Gunung Merapi Sleman tetap beraktivitas normal seperti biasanya," katanya, menambahkan bahwa situasi saat ini aman, kondusif, dan terkendali.

Sebelumnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengungkapkan, terjadi erupsi Gunung Merapi pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 05.22 WIB. Badan Geologi yang berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini mencatat, erupsi tersebut memiliki amplitudo 75 mm dan durasi 45 detik.

Kolom asap letusan gunung api di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta ini mencapai 6.000 m, atau 6 km, dari puncak. Selain itu, pascaerupsi Merapi mengeluarkan awan panas guguran ke arah hulu Kali Gendol dengan jarak maksimal 2 km. Sebagian wilayah di Kabupaten Boyolali dan Klaten mengalami hujan abus disertai pasir akibat erupsi Merapi.

Sementara itu, sukarelawan Jaringan Informasi Lingkar Merapi (Jalin Merapi), Mujianto, menerangkan, erupsi yang terjadi pada Selasa pagi itu statusnya cukup besar dibandingkan sebelumnya.

"Kalau melihat beberapa erupsi terakhir pasca-2018, yang menaikkan status ke waspada itu, ini juga lumayan ada kenaikan, tapi status saat ini masih waspada, sejak 21 Mei 2018," kata dia.

Sumber : Suara.com