Sentuh Rp14.000, Volatilitas Rupiah Terburuk Sejak Maret 2019

Gambar mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta pada uang kertas Indonesia Rp100.000 terlihat melalui kaca pembesar di Bangkok, Thailand, (15/09/2015). - Bloomberg/Brent Lewin
28 Februari 2020 17:37 WIB Finna U. Ulfah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh level terendah sejak Oktober 2019 dan mengalami pelemahan terbesar sejak Maret 2019.

Berdasarkan data Bloomberg, pada sesi I perdagangan Jumat (28/2/2020), rupiah parkir di level Rp14.190 per dolar AS, melemah 1,16 persen atau 165 poin. Volatilitas itu menjadi yang terbesar bagi pergerakan rupiah dalam hampir 12 bulan terakhir.

Selain itu, kinerja rupiah itu menjadi yang terlemah di antara mata uang Asia, berada tepat di bawah kinerja rupee dan peso Filipina yang masing-masing melemah 0,58 persen dan 0,4 persen.

Rupiah telah mengalami pelemahan di sembilan hari berturut-turut, dan tampak tidak mampu membalikkan posisinya di saat dolar AS melemah dan beberapa mata uang Asia lainnya berhasil memanfaatkan momentum itu untuk menguat, seperti won, dolar Taiwan, dan baht.

Sepanjang tahun berjalan 2020, rupiah terkoreksi 2,28 persen menjadi kinerja terburuk kelima di antara rekan mata uang Asia lainnya. Padahal, rupiah sempat jauh memimpin kinerja mata uang Asia melawan dolar AS, pada awal tahun ini.

Kepala Strategi Pasar National Australia Bank Ltd Christy Tan mengatakan bahwa penurunan dolar AS tampaknya untuk memitigasi beberapa dampak negatif terhadap mata uang di Asia dari aksi jual besar-besaran di ekuitas AS.

“Bagian dari alasan mengapa pasar mata uang Asia bergerak variatif adalah sekarang kekhawatiran pasar tentang situasi China akibat virus corona atau covid-19 telah mereda, sementara perkembangan virus itu di luar China menjadi sengat mengkhawatirkan,” ujar Christy seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (28/2/2020).

Saat ini, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang Asia bergerak 0,14 persen menjadi 98,369.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) tampak kembali mengintervensi pasar melalui perdagangan DNDF. Namun pada perdagangan kali ini, BI meningkatkan intervensinya tidak hanya melakukan pembelian valas melalui DNDF, tetapi juga membeli obligasi Indonesia senilai Rp2 triliun melalui lelang.

Pertolongan BI itu seiring dengan aksi jual besar-besaran yang juga terjadi pasar modal dalam negeri akibat sentimen penyebaran virus corona yang semakin parah sehingga menekan pertumbuhan ekonomi global dan dalam negeri.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam penutupan perdagangan sesi pertama Jumat (28/2/2020), parkir di level 5.311,961, melemah 4,04 persen atau 223,733 poin. Level itu pun menjadi level IHSG terlemah sejak Januari 2017.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia