8 Orang Hilang di Selat Sunda, Sektor X Jadi Fokus Pencarian Hari Ketujuh
Pencarian 8 orang hilang di Selat Sunda memasuki hari ketujuh. SAR mengerahkan 18 kapal dan 1 helikopter, dengan fokus di Sektor X.
Aktivitas petugas medis saat menangani pasien virus Corona di rumah sakit di Wuhan, Cina, 25 Januari 2020. /THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO via REUTERS
Harianjogja.com, JAKARTA - Pekan ini, Universitas Harvard merilis hasil studi ihwal penyebaran virus Corona dari Wuhan China yang memungkinkan merebak di Indonesia.
Menanggapi hasil riset tersebut, Kepala Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan Siswanto menyebut jika penelitian tersebut merupakan penelitian matematik. Artinya, penelitian tersebut hanya sebatas prediksi sehingga belum dapat dipastikan kebenarannya.
"Pada dasarnya penelitian Harvward adalah model matematik. Model matematik untuk memprediksi, sekali lagi memprediksi. Bisa terjadi bisa tidak," kata Siswanto di Kantor Staf Presiden, Jakarta pada Senin (10/2/2020).
Siswanto menerangkan, virus tersebut dapat menjangkit jika terjadi besarnya lalu lalang orang secara internasional. Merujuk pada hitungan matematis, seharusnya ada enam hingga tujuh kasus Virus Corona yang bisa merebak di Indonesia.
"Prediksi dinamika penyebaran n-CoV, dengan independent variabelnya adalah volume dari international prevalence, artinya seberapa besar orang lalu lalang secara internasional dan dibikin prediksi. Lalu ada garis begini, menurut garis itu, kira-kira di Indonesia harusnya ada sekitar enam atau tujuh berapa kasus," katanya.
Hingga kekinian, Siswanto menjelaskan jika di Indonesia belum terjadi kasus Virus Corona merujuk pada pemeriksaan di Laboratorium Litbang Kementerian Kesehatan. Sebab, ada tiga hal yang masih diteliti seperti \'to prevent\', \'to detect\' dan \'to respon\'.
"Kalau dengan modelling harusnya ada enam kasus. Tapi kita tidak ada, ya menurut saya ya kita bersyukur jangan dipaksa supaya sepakbola terus gol. Dan kita sudah teliti dengan benar. Itu hanya prediksi dengan model matematik," tutup Siswanto.
Sebelumnya, studi ini meneliti tentang kemungkinan atau potensi menyebarnya virus Corona ke negara lain di dunia berdasarkan jumlah perjalanan atau penerbangan dari Wuhan ke negara tersebut.
Hasil analisis dalam penelitian itu, misalnya dengan cukup tepat memprediksi jumlah kasus Virus Corona di Vietnam dan Singapura.
Sementara di Thailand dan Kamboja, demikian menurut para ilmuan itu seperti dilansir The Guardian, jumlah kasus infeksi virus Corona seharusnya lebih besar dari yang saat ini dilaporkan.
Sedangkan di Indonesia, sampai saat ini belum ada kasus penularan Virus Corona, meski hubungan antara Indonesia dengan China sangat erat baik dalam bidang ekonomi maupun pariwisata. China adalah penyumbang turis terbanyak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
"Indonesia belum melaporkan satu pun kasus [penularan virus Corona] dan menurut kami, seharusnya sekarang sudah ada beberapa kasus," kata ilmuan Universitas Harvard yang terlibat dalam studi itu, Marc Lipsitch kepada ABC.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Pencarian 8 orang hilang di Selat Sunda memasuki hari ketujuh. SAR mengerahkan 18 kapal dan 1 helikopter, dengan fokus di Sektor X.
Poprida DIY 2026 digelar 14–23 September dengan 544 atlet. Paku Alam X menekankan disiplin, sportivitas, persaudaraan, dan kehormatan.
Pemkab Banyumas menargetkan Trans Banyumas kembali beroperasi 17 September 2026 setelah layanan berhenti sejak 30 Agustus.
JJLS Kelok 23 dibuka, Dispar Bantul akan mengevaluasi dampaknya terhadap kunjungan wisatawan dan masa depan TPR pantai.
KAI Daop 6 Yogyakarta melayani 1,26 juta penumpang KA jarak jauh pada Agustus 2026, naik 19% dibanding periode sama 2025.
Pelajar Gunungkidul didorong melek politik, memahami etika demokrasi, serta menggunakan hak pilih secara bijak sebagai pemilih pemula.