China Investigasi Kematian Dokter yang Sempat Peringatkan tentang Virus Corona

Seorang petugas berjas pelindung memeriksa suhu seorang penumpang yang tiba di Stasiun Xianning Utara, di Xianning, sebuah kota yang berbatasan dengan Wuhan di utara, di provinsi Hubei, China 24 Januari 2020. - REUTERS - Martin Pollard
09 Februari 2020 11:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, BEIJING-- Banyak cerita terjadi sepanjang wabah virus corona menyebar di China dan seluruh dunia. Seorang dokter mata di Wuhan, Li Wenliang meninggal di usia 34 tahun setelah terinfeksi virus corona 2019-nCoV. Ia merupakan salah seorang 'whistle blower' yang pertama kali menyerukan ancaman virus mirip SARS.

Li meninggal Jumat silam setelah didiagnoisis terinfeksi virus corona jenis baru 2019-nCoV. Tak lama berselang, The National Supervisory Commission memutuskan untuk menginvestigasi kematian Li.

Tidak disebutkan dengan rinci apa yang akan diinvestigasi, tetapi kabar ini muncul saat berkembang kritik tentang penanganan krisis di China. Otoritas setempat disebut tidak transparan pada fase awal epidemi.

Li dan sejumlah tenaga medis menajadi 'whistle blower' ketika mereka menyerukan adanya ancaman virus seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Peringatan ini, bagaimanapun dianggap sebagai tindakan ilegal oleh otoritas yang berwenang.

Kematian Li yang berusia relatif muda juga menjadi sorotan. Riset yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa kematian akibat virus corona Wuhan lebih banyak terjadi ada usia lebih dewasa dan dengan riwayat penyakit kronis.

Dikutip dari Xinhuanet, Komisi Kesehatan Nasional China mengungkapkan belasungkawa atas meninggalnya Li. Komisi ini sangat menghormati tenaga medis yang menghadapi tantangan di garis depan dalam mengendalikan epidemi dan mengesampingkan risiko bagi diri mereka sendiri.

Sumber : Detik.com