Jejak Kebencian Iran Terhadap Donald Trump

Siluet Presiden AS Donald Trump - Reuters
08 Januari 2020 22:47 WIB Saeno News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Iran telah meluncurkan serangan ke pangkalan-pangkalan Amerika Serikat (AS) di Irak, Rabu (8/1/2020).  Di balik serangan Iran terhadap pangkalan pasukan AS di Irak, terbaca jejak kebencian Teheran terhadap Washington.

Trump menjadi sosok yang paling dibenci Iran, lagu kematian untuk Presiden AS yang kontroversial pun sudah didengungkan sebelum Iran melakukan serangan balasan kepada AS setelah pemakaman Qassem Soleimani.

Iran bersumpah meneriakkan slogan "Kematian bagi Amerika" selama Washington melanjutkan kebijakannya yang bermusuhan. Slogan itu diarahkan kepada para pemimpin AS seperti Presiden Donald Trump, bukan kepada negara Amerika.

Retorika Iran itu dikumandangkan oleh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Jumat.

"Selama Amerika melanjutkan kejahatannya, negara Iran tidak akan meninggalkan 'Kematian bagi Amerika'," ujar Khamenei pada pertemuan perwira Angkatan Udara Iran yang menandai peringatan 40 tahun Revolusi Islam Iran, seperti dikutip Reuters dari situs resminya, Rabu (8/1/2019).

Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 pada tahun lalu dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Teheran, yang merupakan pukulan terhadap ekonomi negara itu.

“'Kematian bagi Amerika’ berarti kematian bagi Trump, (Penasihat Keamanan Nasional AS 2018–2019) John Bolton, dan (Menlu Mike) Pompeo. Itu berarti kematian bagi penguasa Amerika, ”kata Khamenei.

Para penandatangan perjanjian nuklir dari Eropa telah berusaha untuk menyelamatkan perjanjian itu, tetapi Khamenei mengatakan mereka tidak dapat dipercaya.

"Saya merekomendasikan agar orang tidak mempercayai orang Eropa seperti orang Amerika," kata Khamenei. "Kami tidak mengatakan, tidak memiliki kontak dengan mereka, tetapi ini masalah kepercayaan."

Uni Eropa telah meningkatkan kritik terhadap program rudal balistik Iran namun tetap berkomitmen pada kesepakatan nuklir 2015.

Pernyataan Mark Esper

Sekretaris Pertahanan AS Mark Esper secara tegas menyatakan pada Senin (6/1/2019) bahwa militer AS tidak akan melanggar hukum perang dengan menyerang situs budaya Iran. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman untuk menyerang 52 situs jika Iran melakukan tindakan balasan setelah kematian Qassem Soleimani.

Saat ditanya apakah ia ingin menargetkan situs budaya, Esper mengatakan kepada wartawan Pentagon: "Kami akan mengikuti hukum konflik bersenjata."

Saat didesak apakah dia tidak akan menargetkan situs-situs tersebut, karena itu akan menjadi kejahatan perang, Esper mengatakan: "Itu adalah hukum perang." Tapi Esper tidak menjelaskan lebih lanjut.

Menargetkan situs budaya dengan aksi militer dianggap sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional, termasuk resolusi Dewan Keamanan AS yang didukung oleh pemerintahan Trump pada 2017 dan Konvensi Den Haag 1954 untuk Perlindungan Properti Budaya.

Serangan pesawat tak berawak AS pada Jumat yang menewaskan komandan militer Iran Qassem Soleimani telah meningkatkan ketegangan AS dengan Iran, meningkatkan kekhawatiran terjadinya konflik habis-habisan.

Washington mengatakan pihaknya membunuh Soleimani untuk membela diri karena Soleimani berencana menyerang personel dan kepentingan AS.

Di tengah ancaman pembalasan Iran atas pembunuhan Soleimani, Trump menyatakan melalui akun Twitter selama akhir pekan bahwa Amerika Serikat telah menargetkan 52 situs Iran, beberapa "pada tingkat yang sangat tinggi & penting bagi Iran & budaya Iran" jika Iran menyerang aset Amerika atau Amerika sebagai pembalasan .

“Mereka diizinkan menggunakan bom di pinggir jalan dan meledakkan orang-orang kita dan kita tidak diizinkan menyentuh situs budaya mereka? Itu tidak bisa seperti itu," kata Trump kepada wartawan, Minggu.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia