Tol Jogja-Solo Lewat Ring Road Utara, Underpass Perlu Dibangun di Monjali

Ilustrasi pintu tol. - JIBI/Bisnis Indonesia/Arief Hermawan P.
01 Januari 2020 19:07 WIB Rahmat Jiwandono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Wacana pembuatan terowongan (underpass) di Simpang Empat Monjali, Ring Road Utara, mengemuka menyusul perubahan desain tol Jogja-Solo yang semula melayang (elevated) menjadi melewati jalan lingkar yang ada sekarang (at grade).

Underpass dinilai mampu mengurangi beban Ring Road sebagai jalan utama saat jalan yang ada saat ini diubah menjadi tol.

“Simpang empat Monjali pada prinsipnya merupakan jalur lalu lintas arteri Ring Road Utara,” kata Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Dwi Ardianto, Selasa (31/12/2019).  

Jalur Ring Road, kata Dwi, dirancang untuk kendaraan berkecepatan tinggi. Saat ini, Underpass Kentungan masih dibangun untuk mengurangi kemacetan di Simpang Empat Kentungan Ring Road.

Menurut Dwi, keberadaan terowongan di simpang jalan mengharuskan persimpangan lain  di ruas jalan sama memiliki terowongan. Sebab, jalan tersebut juga menampung beban jumlah kendaraan yang sama. 

Perubahan desain tol Jogja-Solo dari semula melayang di sepanjang atas Ring Road menjadi di bawah seperti jalan biasa sepanjang dua kilometer begitu memasuki kawanan Monumen Jogja Kembali (Monjali) diusulkan Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

HB X mengusulkan perubahan tersebut karena Perempatan Monjali merupakan Sumbu Imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Pantai Selatan. Sultan tak mempersoalkan penggunaan sebagian ruas Ring Road untuk jalan tol demi menyelamatkan estetika garis imajiner Jogja.

Sultan mengatakan Pemda DIY yang mengusulkan ke Pemerintah Pusat mengenai perubahan di kawasan Monjali.

“Karena [kawasan Monjali] itu sumbu imajiner,” ujar dia di Kepatihan, Kamis (19/12/2019).

Sultan mengapresiasi Pemerintah Pusat yang sudah menyetujui usulan tersebut sehingga desain tol bisa segera diubah.

Saya [yang mengusulkan ke Kementerian PUPR], kalau mau, kalau enggak ya enggak jadi [dibangun tol] dan [Pemerintah Pusat] mau untuk diubah [desain] ya sudah, enggak ada masalah,” katanya.

Sumbu imajiner adalah filosofi tata rang DIY yang membujur dari selatan ke utara. Sumbu tersebut merupakan gambaran konsep mikrosmos, yaitu alam kehidupan nyata yang menjadi laku peziarahan manusia. Secara paralel dalam konsep makrokosmos ada garis imajiner Selatan – Utara, yaitu Laut Selatan hingga Gunung Merapi.

Di garis tersebut terdapat bebarapa bangunan yang punya makna khusus dalam kepercayaan Jawa. Panggung Krapyak ke Kraton dan Tugu memberikan gambaran konsep sangkan paraning dumadi  atau dari mana asal manusia dan ke mana arah yang akan dituju. Ini menggambarkan perjalanan manusia dari embrio, lahir, berkembang, mengisi kehidupan, dan pada akhirnya kembali kepada Tuhan.

Sumbu dari Tugu Pal Putih hingga Gunung Merapi, yang sangat penting dalam konsep mikrokosmos DIY, tak boleh terhalang. Garis ini melewati Perempatan Monjali. Kebaradaan tol layang di atas Ring Road di Perempatan Monjali akan mengganggu konsep sumbu imajiner ini.