Guru di Ponorogo Kecelakaan, Motornya Malah Dibawa Kabur Pencuri
Motor Honda Beat milik guru di Ponorogo dibawa kabur setelah kecelakaan. Polisi menangkap terduga pelaku di Kabupaten Kediri.
Ilustrasi internet/Bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA- Peneliti menyebut adanya "jahiliyah siber" yang perlu diwaspadai di dunia maya.
Peneliti dari Universitas Boston, Amerika Serikat, Hafiz Al Asad, mengingatkan bahaya "jahiliyah siber" di tengah masyarakat yang muncul seiring perkembangan teknologi informasi.
"Penggunaan internet di kalangan masyarakat luar sangat masif tapi belum disertai perilaku yang ideal sesuai etika dunia maya," katanya saat berbicara sebagai panelis utama "Annual International Conference on Islamic Studies" (AICIS) di Jakarta, Kamis (3/10/2019).
Hafiz telah melakukan riset tentang "Siber Sektarian" yang mengambil sampel pada kurun waktu tertentu pada pemilihan umum di Indonesia.
Hasilnya, kata dia, aktivitas siber di kalangan Muslim di Indonesia telah meningkatkan volume sektarianitas dengan cukup mengkhawatirkan.
Sibernetika, kata dia, memicu sektarianisme di masyarakat melebihi sebelum datangnya era siber. Tahun lalu polisi telah mengungkap 2.600 kasus kejahatan siber.
Dia mencontohkan kasus kriminal siber terbesar adalah sindikat Saracen yang secara terorganisasi dan rapi menggunakan sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) sebagai alat propaganda demi kepentingan pragmatis.
"Inilah bentuk baru jahiliyah di dunia maya yang sangat mengkhawatirkan," katanya.
Merujuk data 2007, ia mengatakan pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 145 juta pengguna dan menduduki peringkat enam terbesar di dunia. Tingginya aktivitas dunia maya ternyata menimbulkan ekses negatif dalam kehidupan beragama di Indonesia.
Master bidang hubungan internasional Universitas Boston itu mengatakan mudahnya arus informasi melalui dunia maya telah menyediakan jalan tol bagi kebohongan dan provokasi berbasis agama.
Hal itu, lanjut dia, menimbulkan keributan di kalangan masyarakat dan sebagian aktivitas siber tersebut telah berujung pada tindakan kriminal.
Maka, Hafiz menyarankan perlunya peran aktif organisasi masyakarat untuk membendung kebodohan siber yang memicu perpecahan.
"Karena merekalah yang memiliki jaringan langsung kepada publik dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi di mata para anggotanya," kata dia.
Ia mengatakan tokoh agama, adat dan ulama dalam struktur sosial masyarakat Indonesia harus turun tangan menekan masyarakat agar tidak terhasut isu siber yang mengarah hoaks.
Setiap tahun, kata dia, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah banyak menutup situs-situs yang meningkatkan sentimen SARA. Namun situs-situs itu selalu bermunculan kembali.
Adapun hasil riset Hafiz Al Asad itu dipaparkan dalam konferensi tahunan AICIS yang mengambil tema "Digital Islam, Education and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam".
AICIS adalah forum kajian keislaman yang telah berjalan sejak 19 tahun lalu. Pada pergelaran AICIS ke 19 ini, sekitar 1.700 sarjana kajian Islam berkumpul di Indonesia pada 1-4 Oktober 2019. Pertemuan ini membahas 450 makalah dari 1.300 yang diseleksi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Motor Honda Beat milik guru di Ponorogo dibawa kabur setelah kecelakaan. Polisi menangkap terduga pelaku di Kabupaten Kediri.
Bappenas menyiapkan Peta Jalan Bioekonomi Indonesia yang ditargetkan diadopsi akhir 2026 untuk memperkuat industri dan ekonomi berkelanjutan.
UMY memperkuat kampus berkelanjutan dengan 48 panel surya, rencana SPKLU, penambahan sepeda, perbaikan jalur pejalan kaki, dan daur ulang air.
Fore Kopi mengungkap akses tanpa izin terhadap data hingga 5,7 juta akun pelanggan. Simak jenis data terdampak dan imbauan perusahaan.
Gempa magnitudo 6,4 mengguncang Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis pagi. BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi tsunami.
APPDI mengingatkan perusahaan agar menyesuaikan perjanjian transfer data lintas negara dengan UU PDP dan konteks pemrosesan data.