Merubah Gaya Hidup Jadi Kunci Menghadapi Ledakan Jumlah Lansia di 2035

Pembukaan IRHC di Yogyakarta, Senin (22/7/2019). - Ist/Respati.
23 Juli 2019 03:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Kesehatan menyatakan jumlah penduduk usia lansia yang akan menjadi 48 juta jiwa pada 2035 harus diantisipasi sejak dini agar tidak menjadi masalah terutama bidang kesehatan. Mengajak masyarakat merubah gaya hidup ke arah hidup sehat menjadi salah satu kunci menghadapi ledakan jumlah lansia tersebut.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek dalam International Respati Health Conference (IRHC) di Yogyakarta, Senin (22/7/2019). Temu ilmiah yang dihadiri ratusan pakar yang membidani masalah lansia baik di level nasional maupun internasional itu secara khusus membahas materi lansia yang hasilnya akan diberikan kepada Kementerian Kesehatan.

“Indonesia menuju transisi usia lansia yang akan terjadi peningkatan di 2035 sebesar 15,77% atau 48 juta, ini akan jadi masalah kalau tidak dipersiapkan. Karena kita bisa melihat lansia ini akan mengalami degenerasi, Ini akan terjadi di setiap manusia tidak mungkin akan muda selamanya, sel-sel akan menuju degenerasi,” ungkap Menkes Nila Djuwita F. Moeloek.

Nila menambahkan, saat ini di Indonesia sudah ada lima provinsi yang memiliki angka harapan hidup tinggi, di mana DIY menduduki urutan pertama dengan angka 13%. Usia harapan hidup meningkat antara 71 tahun hingga 74 tahun, namun sayangnya usia harapan hidup sehat masih di angka 62 tahun. Sehingga terjadi kesenjangan cukup tinggi antara delapan sampai sembilan tahun.

Dengan demikian diperkirakan sekitar delapan hingga sembilan tahun setiap penduduk sakit-sakitan yang berdampak pada tingginya biaya untuk pengobatan. Ia berharap melalui temu ilmiah itu bisa menghasilkan suatu ide, gagasan yang ke depan dapat memperkecil kesenjangan antara usia harapan hidup dengan usia harapan hidup sehat. Kondisi tidak sehat itu memang banyak terjadi pada usia lansia, namun sebenarnya bisa diupayakan sejak usia muda membiasakan hidup sehat.

 “Gaya hidup harus berubah, harus mempelajari gaya hidup agar kita tetap sehat. Melakukan aktivitas fisik, makan makanan sehat, sayur, buah, harus cek gula darah. Sakit jantung saat ini meningkat dari 0,5 menjadi 1.5%, biaya PTM [penyakit tidak menular] ini luar biasa mahalnya. Dimensia di Indonesia juga begitu banyak, cukup mengagetkan,” katanya.

Oleh karena itu, Nila mengapresiasi Yayasan Respati yang memiliki komitmen melalui kampus ramah lansia sehingga dianggap menjadi salah satu upaya promosi dan pencegahan terhadap berbagai penyakit lansia. “Kami mengapresiasi, ini mungkin pertama di Indonesia, kami berharap dari pertemuan ini ada semacam riset bagaimana lansia ke depan,” ucapnya.

Ketua Pengarah IRHC 2019 Profesor Tri Budi mengatakan pihaknya akan terus mengupayakan agar kampus respati yang berada di Indonesia memiliki keunggulan di bidang lansia. Ke depan semua prodi di setiap institusi pendidikan di bawah Yayasan Respati akan diberikan materi gerontologi atau ilmu tentang lansia. “Semoga bisa diikuti universitas lain, kami sebagai universitas ramah lansia. Karena lansia ini juga perlu perawatan orang lain, perlu pendidikan, kami komitmen dengan itu,” ucapnya.

Ia mengatakan dalam konferensi itu dihadirkan banyak pakar lansia dari berbagai negara. Mereka tidak hanya secara khusus konsen di bidang kesehatan saja, namun juga menangani lansia dari semua aspek, mulai sisi sosiologi, ekonomi hingga psikologi. “Hasil dari pertemuan ini dari berbagai disiplin ilmu akan langsung kami berikan kepada Kemenkes sebagai rekomendasi penanganan lansia,” katanya.

Ketua Panitia IRHC 2019 Arianto Nugroho menyatakan dalam konferensi itu tidak hanya dilakukan diskusi dalam ruangan, peserta juga diajak untuk mengunjungi sekolah ramah lansia yang berada di Wonolelo, Pleret, Bantul. Di sekolah lansia tersebut dilakukan wisuda sekolah lansia yang sertifikatnya ditandatangani dari berbagai negara perwakilan yang hadir mengikuti konferensi. Kegiatan itu diikuti 413 peserta, yang berhasil mengumpulkan 125 paper serta 27 karya dalam bentuk poster.

“Harapannya kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat terutama lebih menjadikan kita merubah gaya hidup ke arah kebiasaan hidup sehat. Manfaat ini tentunya diharapkan tidak hanya untuk masyarakat di Jogja atau secara nasional saja, namun juga internasional,” ucapnya.