Advertisement
2 Hakim Agung Akan Dilaporkan ke KY karena Bebaskan Syafruddin Arsyad Temenggung
Mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung (kedua kanan) meninggalkan Rutan Kelas 1 Jakarta Timur Cabang Rutan KPK, Jakarta, Selasa (9/7/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Dua dari tiga hakim yang membebaskan Syafruddin Arsyad Temenggung dalam kasasi perkara korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) akan dilaporkan ke Komisi Yudisial.
Mereka akan dilaporkan oleh Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi yang terdiri dari Indonesia Corrupation Watch (ICW), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Tangerang Public Transparency Watch.
Advertisement
Kurnia Ramadha, narahubung koalisi mengatakan bahwa pelaporan itu akan dilakukan pada Selasa (23/7/2019), pada pukul 14.00 WIB di Kantor Komisi Yudisial, di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.
“Publik dikejutkan dengan putusan pada tingkat kasasi yang justru melepas Syafrudin Arsyad Temenggung, mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi atas penerbitan Surat Keterangan Lunas pada Sjamsul Nursalim yang merupakan Pemegang Saham Pengendali BDNI, bank penerima BLBI,” ujarnya, Senin (22/7/2019).
BACA JUGA
Lanjutnya, pada saat putusan dibacakan diketahui dua diantara tiga hakim menganggap perkara ini masuk pada ranah perdata dan administrasi.
Menurutnya, pandangan dua hakim ini sangat mungkin untuk dikritisi dan bagaimanapun kerugian negara dalam perkara ini sangat besar, yakni Rp4,58 triliun.
“Selain dari itu ada beberapa dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dua hakim tersebut sehingga kami akan melaporkan mereka,” tambahnya.
Belum lama ini, dalam kasasi dengan nomor register No. 1555K/PID.SUS-TPK/2019, MA membatalkan putusan pengadilan dalam perkara penerbitan SKL BLBI dengan terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung.
Dalam pertimbangannya, majelis menilai bahwa perkara yang melibatkan mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) itu bukanlah tindak pidana. Hal ini sejalan dengan arugmen yang sering dilontarkan oleh kuasa hukum Sjamsul Nursalim bahwa persoalan penyelesaian pembayaran BLBI merupakan perbuatan perdata.
Sebagaimana diketahui, KPK menyatakan terjadi misrepresentasi pada utang petambak sebesar Rp4,5 triliun. Utang yang diserahkan kepada BPPN itu diketahui tidak lancar melalui surat Ketua BPPN Glen Yusuf pada November 1999.
Dalam surat itu tersurat bahwa Sjamsul Nursalim dianggap melakukan misrepresentasi lantaran sebelumnya ketika melakukan pernyataan dan jaminan menyatakan bahwa utang petambak yang merupakan aset BDNI tersebut lancar namun pada kenyataannya tidak lancar.
Syafruddin dianggap oleh KPK melakukan perbuatan yang merugikan keuangan negara karena menerbitkan SKL BLBI pada 2004 padahal Sjamsul Nursalim dianggap melakukan misrepresentasi sebesar Rp4,5 triliun. Dia kemudian divonis 15 tahun penjara dan KPK mengembangkan penyidikan dengan menetapkan Sjamsul beserta istrinya sebagai tersangka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pemkab Gunungkidul Punya Utang Penyertaan Modal BUMD Rp216 Miliar
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
- Pancuran 13 Guci Tegal Kembali Ramai Seusai Banjir
- Lima Kelompok Rentan yang Perlu Diet Rendah Garam
- Menu MBG Ramadan 2026 Diganti Kering, Kandungan Gizi Dipersoalkan
- Viral Isu Purbaya Adukan Puan ke Kejagung Dipastikan Hoaks
- Bulog Buka Pasar Beras Haji di Arab Saudi
- KONI DIY Pacu Persiapan PON 2028, Bidik Cabor Olimpiade
- Kota London Sambut Ramadan, Wali Kota Nyalakan Lampu Hias Meriah
Advertisement
Advertisement







